Alamat situs ini seterusnya:

www.nindyo.co.cc

Tik . . . Tok . . . Tik . . . Tok . . . .

The fruit of silence is prayer,
The fruit of prayer is faith,
The fruit of faith is love,
The fruit of love is service,
The fruit of service is peace.

—Mother Teresa of Calcutta

Friday, September 25, 2009

JEJAK KECIL DI KOTA BUNGA BARU (6)

JEJAK KECILKU DI KOTA BUNGA BARU (6): MELKAM ADDIS AMIT 2002!


Pepatah Jawa mengatakan, “Bathok bolu isi madu,” yang berarti dari perihal remeh tersimpan cairan kental yang manis dan berharga mahal. Tuhan Yesus tidak memandang sepele orang-orang yang nestapa, bahkan berkata, “Berbahagialah hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.” (Luk. 6:20) Rasul Paulus pun menggemakan perkataan Tuhan Yesus, “dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah.” (1Kor. 1:28-29).


Bagiku Ethiopia, tempat tugasku selama setahun sebagai utusan Mennonite World Conference (MWC) dan Mennonite Central Committee (MCC) dalam program Young Anabaptist-Mennonite Exchange Network (YAMEN!) juga seperti itu. Jauh-jauh hari, aku tidak pernah menyangka bahwa negeri yang tergolong paling miskin di dunia ini menyimpan sejuta kekayaan! Baik itu kekayaan alam, kultur maupun religius. Bila orang Kristen mempunyai uang lebih, biasanya tempat wisata luar negeri berbau Kekristenan adalah Israel dan daerah Sungai Yordan serta sejumlah tempat di Turki (dahulu Asia Kecil). Nyaris tidak pernah memilih Ethiopia sebagai salah satu pilihan! Sebab, gambaran yang telah terpatri sejak dahulu adalah: Ethiopia adalah negeri yang penuh kelaparan.


Memang bukan merupakan rahasia, Ethiopia adalah negeri yang penuh paradoks. Ada dataran yang sangat tinggi, dengan ketinggian lebih dari 4.000 m. di atas permukaan Laut, yaitu daerah Ras Dashen dengan ketinggian 4.620 m. Tetapi juga padanya terdapat dataran yang tergolong paling rendah sedunia, yaitu Danakil Depression dengan kerendahan -116 m. di bawah permukaan laut. Secara demografi, di Ethiopia dapat dijumpai orang-orang yang sangat kaya, tetapi juga sangat banyak orang-orang yang papa; kelaparan dan malnutrisi masih menjadi problem serius negeri ini. Negeri ini kaya dengan sejarah religiositas, tercermin dengan kata-kata yang sering terucap ketika orang berpapasan dan bertanya, “Apa kabar?” (“Dehna neh/nesh?”) tidak pernah tertinggal ungkapan, “Terpujilah Allah!” (“Ighzabher yimsken”) dalam bahasa Amharic, namun negeri ini juga menghadapi tantangan HIV/AIDS yang merajalela. Negeri ini kaya dengan sumber daya alam, namun kapasitas untuk menggali dan mengelolanya tidak dimiliki oleh pemerintah Republik Federasi (yang menggantikan rezim komunisme pimpinan Mengistu Haile Mariam pada tahun 1991).


Kendati tergolong negara miskin, rakyat Ethiopia membanggakan bahwa negeri mereka adalah satu-satunya yang tidak pernah dijajah oleh satu bangsa Eropa manapun di benua Afrika. Sekalipun Fasisme Italia di bawah pimpinan Bennito Mussolini pernah mencoba menginvasi Ethiopia lewat jalur utara (Eritrea), dan berhasil menduduki Ethiopia, Eritrea dan Somaliland Itali pada tahun 1936, namun pada tahun 1941 Italia berhasil diusir dari Ethiopia. Di halaman bekas istana kaisar Haile Selassie I yang kemudian dibaktikan untuk menjadi gedung utama Museum Etnografi dan Institut Penelitian Ethiopia serta Universitas Addis Ababa, didirikan monumen undak-undakan yang menunjukkan kekuasaan Fasisme Italia sejak dimulai pada tahun 1922 hingga diusir dari Ethiopia pada 1941. Di puncak monumen itu duduk patung seekor singa bermahkota, lambang kaisar Haile Selassie I.


Gedung yang merupakan museum ini sendiri sangat menarik perhatian. Karena di dalamnya masih tersimpan sejumlah peninggalan kaisar Mennelik II dan permaisurinya, juga Haile Selassie I dan permaisuri Menen. Atmosfer dramatis masih dapat dirasakan ketika memasuki kamar pribadi Haile Selassie I, sebab di sana dapat disaksikan lubang bekas peluru di kaca rias dan tembok di ruang ganti pakaian sang kaisar, yang ditembakkan dari luar gedung dalam upaya pembunuhan sang kaisar. Karena terbatasnya ruang, tidak cukup bagi kita membicarakan sejarah pro dan kontra pada masa bertakhtanya kaisar Haile Selassie I.


****


Realitas bahwa Ethiopia tidak pernah dijajah oleh satu negara Eropa mana pun mungkin merupakan penyebab negeri ini memiliki keunikan yang tidak dimiliki semua negara yang berdirinya diwarnai oleh Kekristenan. Ethiopia sendiri sangat diwarnai oleh Orthodoks Ethiopia. Kekristenan ini tergolong dalam Kekristenan Oriental yang dianggap monofisit (“natur tunggal”) oleh gereja penganut keputusan persidangan di Kalsedon (451 M.) tentang keilahian dan kemanusiaan Yesus. Bagi Gereja-gereja Orthodoks Oriental, Kristus memiliki satu natur, yaitu ilahi; sangat sulit dan mustahil untuk memilah Kristus memiliki natur ilahi serta manusia. Gereja Orthodoks Yunani serta Gereja Katolik Roma menganggap sesat pandangan Gereja-gereja Oriental tersebut dan mengeluarkan golongan ini dari persekutuan yang “am.” (Uraian sejarah selanjutnya dapat dibaca dalam buku-buku dogmatika atau dapat ditanyakan kepada seorang rohaniwan yang gemar mencermati sejarah pemikiran Kristen.)


Keunikan yang paling menyolok adalah kalender. Ethiopia tidak menganut sistem 12 bulan (Januari-Desember) dalam penanggalan Eropa yang direvisi oleh Justinianus. Negeri ini masih mengikuti penanggalan Gregorius Agung, sehingga “ketinggalan” 8 tahun! Tahun 2007, Ethiopia baru memasuki Millenium III. Jadi pada tahun 2009, Ethiopia memasuki tahun 2002.


Penghitungan tahun baru pun tidak dimulai pada tanggal 1 Januari, tetapi 11 September. Dan, terdapat 13 (tiga belas) bulan! Itulah sebabnya, Kementrian Pariwisata dan Postel Ethiopia memromosikan negeri ini dengan “Tiga Belas Bulan Sinar Matahari.” Nama bulan-bulan tersebut adalah sebagai berikut:


Maskaram (11 September – 10 Oktober)

Tekemt (11 Oktober – 9 November)

Hedar (10 November – 9 Desember)

Tahesas (10 Desember – 9 Januari)

Ter (10 Januari – 7 Februari)

Yekatit (8 Februari – 9 Maret)

Megabit (10 Maret – 8 April)

Miazia (9 April – 8 Mei)

Genbot (9 Mei – 7 Juni)

Sane (8 Juni – 7 Juli)

Hamle (8 Juli – 6 Agustus)

Nhase (7 Agustus – 5 September)

Poagme (5 September – 10 September)


Jadi, bulan ke-13 hanya terdiri dari 5 hari. Bila tahun kabisat menjadi 6 hari (konversi dengan penanggalan Eropa menjadi dimulai pada tanggal 12 September).


Tahun Baru Ethiopia dimulai pada waktu Ethiopia mengalami musim penghujan yang besar. Cuaca di Addis Ababa dengan ketinggian 2.400 m. menjadi sangat dingin, rata-rata suhu 15oC. Namun biasanya, setelah tahun baru, curah hujan menurun dan suhu menjadi lebih hangat. Anak-anak Abbisha (sebutan lain orang Ethiopia) mengenakan baju baru dan menari-nari di perkampungan tempat tinggal mereka, memberikan karangan bunga, kartu bergambar atau lukisan kepada seluruh anggota keluarga.


Suasana makin meriah karena hampir tiap rumah menyembelih kambing atau domba atau ayam. Tetapi kebiasaan yang “aneh” bagi seorang Indonesia sepertiku adalah, pada perayaan tahun baru, banyak orang di sini yang memakan daging-daging itu mentah! Aku bertanya kepada seorang yang cukup umur, di mana aku tinggal bersama keluarganya pada saat ini, katanya itu merupakan kebiasaan yang diturunkan sejak dahulu. Lagi, setiap laki-laki Abbisha harus belajar memakannya karena itu merupakan tanda kejantanan. Karena rasa ingin tahu, aku bertanya bagaimana rasanya. Ia menjawab dengan balik bertanya, bagaimana rasanya air putih? Tidak berasa. Daging mentah pun sama. Tidak ada rasanya, tetapi ketika dimakan dengan masakan lain (bentuknya seperti pasta berwarna kuning dan berasa pedas merica sebagai kekhasan masakan Ethiopia), terjadilah cita rasa baru yang nikmat! Tetapi, bukankah dalam daging sapi ada cacing pitanya (Taenia saginata)? Tanyaku. Ia menjawab dengan tertawa, “Justru itulah supaya terjadi keseimbangan dan keadilan, sehingga toko obat menjadi laku! Kalau tidak begitu, bagaimana mereka mendapatkan uang?”


Harap digarisbawahi! Jangan cepat-cepat menghakimi dengan kacamata budaya Indonesia. Ini memang bukan budaya makan kita. Namun demikian, bukankah di wilayah Asia sendiri, ada negara yang memakan ikan mentah hanya dengan cuka? Orang-orang Amerika Utara pun terheran-heran ketika aku bercerita bahwa di Indonesia (khususnya Jawa) semua jenis sayuran dimasak sebelum dikonsumsi, dan setiap kali makan pasti menu utamanya nasi. Isu budaya merupakan isu relatif, artinya berkaitan dengan konteks di mana kita tinggal dan bagaimana tata aturan yang berlaku dan yang diakui oleh masyarakat setempat. Karena itu, tidak bijak untuk menilai dan menyalahkan budaya lain dengan cara berpikir yang kita bawa dari tempat asal kita.


Kembali ke perayaan Tahun Baru Ethiopia. Perayaan ini serentak dengan Perayaan “hari lahir” St. Yohanes Pembaptis. Hari tersebut juga dinamakan Enkutatash. Artinya “hadiah perhiasan-perhiasan.” Kisah yang berkaitan dengan Perjanjian Lama ialah pada waktu Ratu Syeba kembali dari perjalanan panjang serta mahal untuk mengunjungi kaisar Salomo di Yerusalem, para punggawa kerajaan menyambutnya dengan memenuhi perbendaharaannya dengan enku atau perhiasan-perhiasan. Sejak saat itu, pada masa hujan tiba diadakanlah perayaan Enkutatash. Nyanyian serta tarian selalu terdengar di pedesaan-pedesaan. Rumah-rumah dihiasi rumput-rumput sebagai pengharapan “hijau”-nya tahun yang baru.


Perayaan tahun baru Ethiopia biasanya dipusatkan di gereja Kostete Yohannes di kota Gaynt di provinsi Gondar, yang dibangun pada abad ke-14. Tiga hari doa, mazmur dan nyanyian, khotbah dan prosesi akbar nan warna-warni menandai perayaan Tahun Baru. Di utara Addis Ababa, Gereja St. Raguel, di puncak Gunung Entoto, juga menggelar yang paling meriah dan spektakuler di seluruh Ethiopia.


****


Memang, tidak semua orang Ethiopia Kristen. Jumlah orang Muslim pun besar di negeri ini. Maka, tahun baru bukan semata-mata perayaan religius. Kendati begitu, semua penduduk Ethiopia merayakannya. Nyanyian dan tarian gadis kecil di antara bunga-bunga yang mekar merupakan pelambang masa bersemi dan kehidupan yang baru. Enkutatash juga dirayakan dengan saling bertukar kartu ucapan selamat tahun baru.


Minggu 6 September 2009, merupakan pengalamanku mengikuti kebaktian di gereja Abbisha yang berbahasa Amharic (bahasa nasional Ethiopia). Setelah kebaktian selesai, aku disodori oleh seorang anggota sekolah minggu anak-anak sebuah kartu ucapan bertuliskan huruf-huruf Amharic. Aku terima saja. Tetapi dia memandangiku dan berkata, “And Birr” (“Satu Birr”). Oh, baru aku sadar bahwa kartu itu dijual seharga 1 Birr Ethiopia (mata uang resmi), atau senilai Rp. 800,00.


Gereja tempat aku beribadah (dan melayani) memang menganjurkan semua anggotanya untuk membeli kartu dan mengajak orang-orang yang belum mengenal Kristus dengan kartu ucapan selamat tahun baru itu. Gereja ini merupakan gereja Mennonit dengan perkembangan paling cepat di seluruh dunia. Sekarang, anggotanya berjumlah 337.200 orang dengan 510 tempat ibadah di seluruh Ethiopia. Gereja ini bernama Meserete Kristos Church (MKC).


Demikianlah sejumput pengalamanku di tanah Abbisha. Di tahun baru Ethiopia ini, aku harus belajar mengucapkan, “Melkam addis amit! Selamat Tahun Baru!


Igzhabher yimsken!

JEJAK KECIL DI KOTA BUNGA BARU (5)

JEJAK KECILKU DI KOTA BUNGA BARU (5): JATI DIRI


Pada waktu orientasi peserta IVEP/SALT/YAMEN! di Akron, salah satu pertanyaan yang diajukan oleh staf orientator adalah, “Siapakah aku?” Pertanyaan ini sangat penting untuk direnungkan. Pengalaman hidup lintas budaya, akan membuat para peserta pertukaran pemuda tidak sama seperti yang sudah-sudah. Jati diri akan terus dibentuk dan diasah. Segala yang ada pada diri seseorang pasti berubah dalam konteks yang berbeda.


Jati diri yang berubah kadang menjadi ketakutan banyak individu Kristen dan gereja. Terkadang, memposisikan diri terhadap pandangan tertentu telah merupakan jati diri. Gereja juga berpuas bila dirinya mengikut pandangan teologi tertentu dan menutup diri terhadap cara pandang lain. Namun tak jarang individu atau gereja yang memegang kokoh “jati diri” yang demikian ditemukan mendua wajah. Kencang dalam pengajaran, tetapi dalam praktik ekklesial ternyata masih patriakhal atau feudalis. Ngotot dalam pandangan teologi tetapi mengultusindividukan seseorang. Mengaku berdiri di atas landasan kebenaran yang ineran tetapi dalam penyembahan dan ibadah pragmatis.


Jati diri dimulai dari keberasalan kita. Dari mana kita berasal, dalam konteks apa kita bertumbuh, siapa saja orang yang mengitari kita, bagaimana nilai masyarakat, peristiwa apa saja yang menimpa kita, yang membawa dampak emosi dan psikis, pendidikan kita, komunitas iman tempat kita bertumbuh, siapa orang yang paling berpengaruh terhadap kita. Namun bila semua itu kita jadikan mutlak, dan kita merasa bahwa itulah kebenaran yang sejati tentang kita, tanpa sadar kita akan masuk ke dalam “zona nyaman” kita. Secara sederhana, kita bisa hidup tetap tenang dan aman dengan apa yang menempel pada kita.


Kendati demikian, bila zona nyaman itu terkoyak, kita menjadi tidak siap. Kita telah menjadi orang yang mapan, dan orang yang mapan tidak siap menghadapi goncangan atas dirinya. Seseorang yang mapan tidak akan siap bila dilucuti semua yang menempel pada dirinya. Contohnya, bila seorang lulusan seminari dikenal sebagai seorang pembicara yang laris. Atau pemikir yang brilian. Atau sebagai gembala yang dicintai domba-dombanya. Siapkah ia untuk meninggalkan semua itu dan menjadi nol, tidak terkenal, bukan siapa-siapa?


Atau seseorang yang telah memiliki pekerjaan tetap, dengan gaji yang banyak. Ia dikenal sebagai orang yang baik di kalangan rekan sejawatnya. Relakah ia meninggalkan panggilan hidupnya untuk sesuatu yang “tidak nyaman” dan penuh risiko demi panggilan yang lebih tinggi? (saat ini, aku sedang membaca sebuah buku berjudul Hospital by the River karya Dr. Catherine Hamlin yang meninggalkan Australia dan pergi ke Ethiopia bersama suaminya; aku akan menceritakannya kelak!)


Kemapanan juga melahirkan eksklusivisme. Tidak ada ruang terhadap perbedaan. Perbedaan dianggap sebagai musuh yang harus dijauhi. Perjumpaan dengan pihak yang berbeda hanya sebatas basa-basi, bukan saling pengertian dan keinginan untuk belajar. Aku mau bersekutu bila kau sama denganku. Karena kau tidak sama denganku, kita tidak bisa bekerja sama. Hal ini terjadi di gereja, bukan? Kecenderungan yang terjadi adalah, gereja kita posisinya A, denominasi A, dan semua pendeta di sini menganut A. Gereja lain berbeda.


****


Memilih Ethiopia sebagai tempat aku belajar menimba pengalaman lintas budaya tanpa liku-liku pertimbangan yang panjang. Banyak orang terkejut. Mereka yang berjumpa denganku bertanya, mengapa Ethiopia? Citra yang menempel di benak banyak orang tentang Ethiopia adalah negeri orang hitam, miskin dan penuh kelaparan. Secara tidak langsung orang bertanya, tak adakah tempat yang lebih baik?


Ethiopia aku pilih, bukan tanpa alasan. Aku tidak berminat ke Amerika Serikat atau Canada atau Eropa untuk jangka waktu setahun. Kubayangkan, hidup di sana lebih enak: lingkungan yang rapi dan bersih, taraf hidup penduduknya relatif sama (meski di kota-kota besar kemiskinan pun kian menganga!), memperoleh barang yang diinginkan juga lumayan mudah. Siapa orang yang tidak ingin mencicipi hidup di daratan Amerika Utara? Tetapi bagiku, apa yang dapat aku lakukan di tempat yang dapat menyediakan apa yang kuinginkan, bahkan lebih?


Tetapi terlalu banyak orang Indonesia tinggal di Amerika Utara. Untuk mendapatkan rekomendasi, mudah dari orang-orang yang sedang ataupun pernah tinggal di sana. Tetapi Ethiopia? Sumber yang dapat kuakses adalah internet. Dan, orang yang lebih dahulu membaca perihal di internet, atau mereka yang pernah mengecap makanan Ethiopia. Aku benar-benar tidak banyak tahu mengenai negeri ini.


Aku membayangkan siapa aku di Ethiopia! Aku bukan siapa-siapa. Aku menjadi orang yang tak dikenal. Di negeri ini hanya sedikit orang yang tahu bahasa Inggris, dan aku sama sekali tak tahu bahasa pengantar mereka. Kalaupun aku mendapatkan waktu belajar bahasa 6 minggu, mungkinkah dalam waktu sesingkat itu aku dapat berkomunikasi dengan lancar di jalan, di gereja, di rumah keluarga yang menampungku?


Dari dalamku, terdapat dorongan besar tentang rasa ingin tahu tentang negeri ini, tentang sejarah, tentang masyarakat dan etnografi mereka. Tetapi cukupkah itu? Tetapi berapa pun alasan yang dapat kujajar, aku belum dapat menjawab siapa aku sekarang ini. Waktuku baru sebulan berada di Addis Ababa, Kota Bunga Baru itu!


****


Meski begitu, aku ingin bercerita tentang sekelumit pengalamanku sebagai seorang yang menjadi bukan siapa-siapa, di negeri orang lain. Orang Ethiopia tidak dapat membedakan orang Asia. Mereka masih bingung dengan orang India dan China. Mereka jarang dan nyaris tidak pernah melihat orang Indonesia.


Dua minggu silam, ketika aku masih tinggal di kontainer di lokasi MCC, waktu itu aku hendak berangkat ke sekolah bahasa Amharic. Kulihat dua orang anak kecil berjalan, dan tanpa sepengetahuanku mereka sedang membicarakan aku dalam bahasa yang tidak aku kenal. Mereka lewat. Tiba-tiba, salah satu di antara mereka berbalik dan bertanya kepadaku dalam bahasa Inggris, “Aku ingin tahu, apakah kamu orang India atau Indonesia. Aku bilang ke temanku kalau kamu orang Indonesia.” Aku membenarkan dia bahwa aku orang Indonesia dan kuucapkan terima kasih karena telah menanyakannya kepadaku.


Tadi pagi (Senin, 7 September 2009), aku berangkat bersama ke sekolah bahasa diantar oleh Mekonnen dengan mobilnya, di dekat daerah Bole seorang pengemis mendekati mobil Mekonnen, dan meminta sedekah. Ternyata ia secara khusus meminta kepadaku. Aku dipesan untuk tidak memberikan uang kepada pengemis bila ia masih terlihat sehat dan mampu bekerja. Tiba-tiba raut mukanya berubah menjadi agak marah. Ia berkata dengan penuh ketidaksenangan dalam bahasa Amharic, “Hai orang Chinese, beri uang, donk, kapan perusahaanmu itu akan dibuka?” Selidik punya selidik, ternyata ada benih sentimen dari orang-orang Abbysa (Ethiopia) terhadap orang-orang China, karena banyak proyek China khususnya menggarap jalan-jalan di Ethiopia. Sejumlah orang Abbysa tidak menyukai hal ini. Jadi, siapa aku? Orang India? Orang China? Aku menjadi orang yang tidak dikenal.


Ngomong-omong tentang orang Ethiopia sendiri, banyak di antara mereka yang ternyata eksklusif. Mereka membanggakan ras, dan merasa beda dengan orang-orang lain di daratan Afrika. Sehingga, ketika orang Abbysa menyebut “Afrika,” dalam pikiran mereka ialah orang-orang yang hitam legam, tinggi besar dan bermuka agak tebal. Mereka tidak merasa bahwa Abbysinia (nama Ethiopia tempo silam) pun merupakan bagian dari Afrika.


Menerungkan jati diri, aku masih memendam setitik ketakutan. Ketakutan untuk menjadi nyaman dan mapan. Aku berpikir, dengan menjadi seperti itu, aku akan kehilangan visi hidup dan panggilan utama. Aku akan menjadi orang yang manis supaya orang suka kepadaku dan mencukupkan semua keperluanku. Bahkan terhadap diriku juga. Bilamana aku merasa semua yang kupegang dan kuketahui telah membuatku berpuas, dan aku tidak berani menantang diriku sendiri serta pemikiran-pemikiranku. Siapa yang kulayani, dan untuk apa aku hidup? Aku bertanya, bilamanakah aku akan berhenti menanyakannya?


Igzabher yimsken!


Addis Ababa, 7 September 2009

Mekonnen’s House @ CMC (10.26 p.m.)

JEJAK KECIL DI KOTA BUNGA BARU (4)

JEJAK KECILKU DI KOTA BUNGA BARU (4): BAHASA AMHARIC


“Berapa bahasa yang kau kuasai?” Jika ada orang menanyakan itu kepadaku, aku menjawab, “Lima!” Biasanya orang terkejut, “Wow! Apa saja?” Jawabku, “Selain bahasa Inggris, aku menguasai bahasa Indonesia, bahasa Jawa Ngoko, Madya dan Krama.”


Tiap-tiap orang memiliki karunia yang belain-lainan. Termasuk dalam kemampuan dan daya ingat. Ada yang diberi kemampuan matematik dan cepat mengingat angka. Ada yang diberi kemampuan mengimajinasikan ruang sehingga menjadi perancang interior yang andal. Tetapi ada pula orang yang diberi karunia mempelajari bahasa dengan cepat. Pendengaran, pengucapan dan daya ingatnya begitu tajam untuk mengingat kosakata bahasa yang baru.


Entah aku diberi kemampuan yang terakhir atau tidak, yang pasti aku senang belajar bahasa. Bagiku rasa senang itu merupakan modal utama. Banyak orang takut dengan bila berhadapan dengan pelajaran bahasa baru. Mengapa takut? Takut salah. Sebagai orang yang agak perfeksionistik, terkadang aku menuntut diriku untuk mengerti dengan pasti struktur gramatika, konjugasi dan ketepatan fonetik suatu kata. Aku tidak ingin salah. Namun akhirnya aku sadari, cara seperti ini tidak selalu sukses. Aku bisa menguasai struktur, tetapi aku tidak dapat berkomunikasi. Tidak selalu ketepatan dalam berbahasa itu diperlukan. Kerap komunikasi itu butuh cepat.


Rasa senangku akan bahasa juga dipicu oleh kegemaranku mengenal budaya. Aku senang sejarah. Aku senang etnografi. Dan, aku senang bahasa. Ketiganya mencerminkan pola pikir dan cakrawala pandang orang-orang setempat. Dengan sejarah, etnografi dan bahasa, aku yakin bahwa seseorang dapat lebih menghormati budaya baru di tempat aku berada. Ia tidak akan mudah menjadi penilai bahkan hakim, menakar sesuatu yang bukan budayanya sendiri, tetapi dengan santun dan arif menjadi pebelajar yang menghormati nilai budaya baru, yang mungkin berbenturan dengan nilai dan tata kehidupan tempat asalnya.


Bahasa mencerminkan kepribadian suatu bangsa. Itulah sebabnya, ketika aku ingin mengenal suatu bangsa, aku ingin belajar alat komunikasinya, yaitu bahasa. Alasanku sederhana. Siapa menguasai komunikasi, ia memiliki teman yang banyak dari kebudayaan setempat. Filosofiku bilamana belajar bahasa baru simpel-simpel saja: Nekad! Itulah yang dibutuhkan untuk sukses mempelajari bahasa. Nekad belajar. Nekad membaca. Nekad berlatih. Nekad berbicara.


****


Aku ingin berbagi sekarang mengenai bahasa Amharic. Bahasa ini merupakan bahasa nasional Ethiopia. Selain Amharic, sebenarnya ada banyak bahasa yang lain di daratan Ethiopia, karena negeri ini pun memiliki beragam suku dan etnisitas. Rumpun bangsa mayoritas di Ethiopia sebenarnya adalah Oromo. Mereka pun memiliki bahasa Oromifa. Tetapi akhirnya, bahasa Amhariclah yang dijadikan bahasa nasional. Gambaran sederhananya seperti rumpun suku Jawa sebagai suku terbanyak di Indonesia, namun bukan bahasa Jawa yang dijadikan bahasa nasional, tetapi bahasa Melayu Riau. Mayoritas tidak selalu menjadi penguasa dan pemonopoli. Mayoritas tidak selalu menjadi yang utama dan mendapatkan fasilitas yang lebih baik daripada yang lain.


Berbeda dengan Oromifa, bahasa Amharic memiliki alfabet. Oromifa tidak. Alfabet Amharic sama dengan bahasa kuno Ge’ez, yang disebut juga bahasa Ethiopic. Namun, bahasa Ge’ez ini makin tidak populer. Bahasa ini hanya dipakai dalam liturgi ibadah Gereja Orthodoks Ethiopia. Bahasa ini masih dianggap sakral bagi kehidupan liturgi Gereja Orthodoks Ethiopia.


Meski alfabetnya persis sama, namun kosakatanya berbeda sama sekali. Kendati demikian, bila kita memahami rumpun bahasa yang lebih besar, kita akan tahu bahwa bahasa Ge’ez maupun Amharic, masih berada dalam satu rumpun bahasa Semit (di samping Ibrani dan Arab). Struktur penulisan verba (kata kerja) juga mirip, terdiri dari tiga konsonan bila ditulis dalam alfabetnya. Beda yang mencolok adalah dalam hal jumlah. Bila Ibrani memiliki 23 huruf saja, Amharic memiliki tak kurang dari 230 huruf.


Semakin mempelajari bahasa asing, semakin seseorang menyadari bahwa bahasa paling mudah di seluruh dunia adalah bahasa Indonesia. Bahasa ini tidak memiliki tenses. Hafalkan kosakata sebanyak mungkin dan struktur S + P + O + K, ditambah prefiks dan sufiks untuk verbanya, tidak ada perubahan yang berarti dalam struktur gramatika. Logikanya juga sederhana.


Bahasa Inggris lumayan rumit, tetapi tidak banyak perubahan. Bahasa Jerman, Prancis dan Latin memiliki akar yang sama. Bahasa Spanyol tidak terlalu njelimet dibanding bahasa-bahasa di atas. Bahasa Yunani dan Ibrani lebih mudah dan tertata.


Bagiku, bahasa Amharic adalah salah satu bahasa yang sangat sukar di dunia. Perubahan dan konjugasi kata kerjanya sedemikian banyak. Perbedaan aku, engkau, kita, kalian, dia laki-laki, dia perempuan, mereka, orang yang dihormati, ditambah prefiks dan sufiks serta perubahan verba yang rumit sekali. Terlampau banyak logika untuk berbahasa Amharic, dan ini merupakan kesukaran bagi orang Indonesia yang memiliki gramatika termudah di dunia.


Menghafalkan kosakata tidaklah cukup! Apalagi, dalam bahasa ini ada bunyi-bunyi asing seperti “-ck-”, perbedaan fonetik “k” yang beragam. Sepintas lalu, bila kau dengar orang berbicara dalam bahasa Amharic, lantunan suaranya serta gerak tangannya seperti orang Ibrani dan Arab. Tetapi kata-kata yang keluar banyak bedanya.


****


Sekali lagi, untuk sukses belajar bahasa, butuh kenekadan! Mengikuti kelas bahasa Amharic yang diadakan oleh Joint Language School, atas prakarsa dari sinode Mekannisa Yesus Church dan Lutheran Wolrd Federation, memberikanku pengalaman yang sangat menarik. Sekolah ini mengembangkan cara didaktik yang berbeda. Semula mereka menerapkan cara pengajaran dari gramatika, konjugasi dll., mirip ketika aku belajar bahasa Yunani dan Ibrani di seminari dulu. Setelah dievaluasi, ternyata banyak peserta didiknya yang menguasai gramatika, namun tidak dapat berkomunikasi dengan penduduk setempat.


Akhirnya mereka mengembangkan pola pendidikan yang lain. Mereka sebut sebagai Growing Participant Approach. Teknik ini dikembangkan oleh seorang pendidik dari Canada bersama istrinya. Sang suami mengembangkan teknik, sedangkan istrinya mengembangkan sarana pembelajaran seperti gambar-gambar penunjang. Peserta didik mendapatkan sebutan “partisipan yang bertumbuh,” sedangkan para pengajarnya yang adalah orang-orang asli Ethiopia yang telah berpengalaman sebagai guru bahasa Amharic disebut “pemupuk” (nurturer).


Cara ini benar-benar baru bagiku! Kelas kami kecil, terdiri dari 5 orang saja. Setiap peserta didik tidak diperkenan membawa buku tulis selama 2 minggu. Mereka tidak boleh menulis apa pun di dalam kelas, dan pengajar pun tidak menulis satu tulisan pun di papan tulis. Pengajar menyediakan alat peraga dan pelbagai sarana juga gambar penunjang pembelajaran. Yang boleh dibawa peserta didik adalah alat rekam. Peserta didik merekam hal-hal yang memang diperintahkan oleh pengajar untuk direkam. Di rumah, rekaman itu didengarkan kembali 3-4 kali agar lebih mudah mengingat pelajaran hari ini.


Setelah 2 Minggu berjalan, barulah kami belajar untuk berbicara. Namun, kami tidak pernah diajar gramatika! Kami dituntut untuk menemukan sendiri gramatikanya, sembari pengajar berbicara. Sang pengajar, sekalipun mampu berbahasa Inggris, berusaha untuk tidak berbicara dalam bahasa Inggris. Kecuali kami bertanya kepadanya masalah-masalah kultural dan/atau seputar gramatika yang kami jumpai pada waktu kegiatan belajar-mengajar berlangsung. Modal terpenting untuk mempelajari bahasa ini bagiku pribadi sekali lagi adalah: nekad!


Aku ingin berbagi mengenai kelas Amharicku. Aku sekelas dengan 2 orang berkebangsaan Amerika Serikat: Joe dan Lydette. Joe adalah seorang konsultan social work. Ia bekerja untuk The Forsaken Children, LSM Amerika Serikat yang memperhatikan anak-anak jalanan. Sedangkan nama Lydette adalah nama Ethiopia. Benar, ayahnya seorang Ethiopia, lalu bermigrasi ke Amerika Serikat dan menikah dengan orang Amerika. Lydette pergi ke Ethiopia bersama aku dalam program pertukaran Serving and Learning Together (SALT) yang disponsori juga oleh MCC.


Dua orang lagi berasal dari benua Eropa. Yang satu seorang perempuan paruh baya dari Swiss yang selalu tampak menyungging senyuman di wajahnya, bernama Ester Kunz. Ia datang setahun yang lalu, bersama suaminya Peter yang juga belajar bahasa Amharic di kelas lain. Satunya lagi bernama Larsh, seorang dari Norwegia yang membantu sebuah rumah sakit internasional di Addis Ababa, selain ia sendiri seorang pebisnis dan direktur penata untuk sebuah perusahaan finansial Norwegia.


Larsh adalah orang yang sering merasa frustrasi di kelas. Karena, ia merasa pola pembelajaran ini sangat asing baginya. Ia belum bisa meraba-raba, target akhir dari metode ini. Sudah 7 bulan ia di Ethiopia. Sebagai seseorang yang berpendidikan tinggi, ia menuntut standar yang sangat tinggi; ia harus melihat dan mengobservasi dengan sungguh bagaimana bunyi suatu kata berdasarkan tulisannya. Namun hal ini sukar oleh karena Amharic memiliki alfabet sendiri yang penulisan antarhuruf dapat berbeda meskipun bunyinya agak-agak mirip.


Sedangkan Lydette lebih banyak tahu kata Amharic karena ia telah cukup sering mendengar dari ayahnya bila berbicara dengan kawannya dari Ethiopia. Ester dan Joe adalah dua orang yang cepat hafal. Sangat mungkin karena mereka sudah cukup lama berada di Addis Ababa. Ester sudah satu tahun, sedangkan Joe sudah 8 bulan.


Namun pengajar di kelas kami sungguh luar biasa. Namanya Ebisse. Ia sesosok ibu yang sabar. Tutur katanya halus. Wajahnya tidak terlalu menunjukkan bahwa dirinya adalah orang Afrika. Orang bisa salah kira. Bahkan lebih mirip orang Jawa. Terhadap kawan yang ketinggalan, ia mau menuntunnya sampai sama dengan yang lain.


Aku sangat menikmati belajar bahasa Amharic. Aku belum bisa berbahasa baru ini dengan lancar. Gen ahun enei Amarigna yetamarukh no (“Tetapi aku sedang belajar bahasa Amharic”). Ada peribahasa Amharic yang aku sangat suka dan menggembirakan hatiku untuk belajar Amharic: Khas bekhas enkhulal ba’egru yihdal. Artinya, sedikit demi sedikit telur itu lambat laun akan berjalan.

Igzhabehr Yimsken!

Addis Ababa, 6 September 2009

JEJAK KECIL DI KOTA BUNGA BARU (3)

JEJAK KECILKU DI KOTA BUNGA BARU (3): KISAH SECANGKIR KOPI (LANJUTAN)


Minuman kopi bisa didapatkan dengan harga yang relatif murah. Kedai di pinggir jalan, sampai cafe waralaba beken biasanya menyediakan minuman berwarna hitam ini. Penyajiannya pun bermacam-macam. Dari mulai kopi murni, dicampur susu, coklat, ditambah es krim rasa vanila, dan beragam lainnya.


Kudus, kota tempat aku dilahirkan dan masih menjadi tempat tinggalku, terkenal dengan Kopi Jetak. Kopi hitam, yang bila dirasakan terdapat aroma abu bakar. Kopi yang ampasnya biasanya dioleskan pada sekujur batang rokok. Katanya, itu menambah cita rasa rokok yang diisap. Hmm, seperti candu. Masalah suka atau tidak, itu selera masing-masing pribadi.


Di Indonesia, mulai banyak kedai kopi yang asalnya dari luar negeri. Di antaranya, kebanyakan kita mengenal brand seperti Starbucks, Excellso, dan J.Co. Ada pula brand dalam negeri seperti Kopi Luwak. Rasanya memang enak, dan disajikan dengan elegan. Berapa harganya? Dalam kisaran Rp. 20.000,00 sampai Rp. 50.000,00. Ok, tidak terlampau mahal bagi yang mempunyai kocek cukup dan rela mengeluarkannya. Paling asyik minum kopi di tempat ini dengan rekan. Sebab kita keluarkan uang bukan hanya untuk kopi itu saja, tetapi juga suasana yang nyaman untuk mengobrol. Bisa jadi, bersama dengan 1 orang rekan saja, kau akan rogoh uangmu hampir Rp. 100.000,00.


Bagaimana di Ethiopia? Di sini tidak ada J.Co, tidak ada Starbucks ataupun Excellso. Mengapa demikian? Jawaban paling mungkin adalah bahwa Ethiopia adalah gudangnya kopi, bahkan kopi enak. Di sini, hanya dengan mengeluarkan uang 3 ETB (Ethiopian Birr), kau sudah mendapatkan kopi Ethiopia yang enak itu! Di mana pun warung yang buka, kopi merupakan menu yang pasti ada. Di tulisan yang lalu, aku ceritakan bagaimana kisah minuman kopi itu berawal. Sekarang aku ingin berbagi cerita mengenai kopi dari sisi yang lain.


****


Di seluruh dunia, perdagangan kopi melonjak kira-kira 170%. Dalam kisaran beberapa tahun, hasil perdagangan dari USD 30 juta meningkat menjadi USD 80 juta per tahun. Tanyakanlah kepada orang-orang di Italia, mereka tidak akan pernah melewatkan barang sehari pun tanpa menghirup secangkir kopi panas di pagi hari. Warung kopi di Eropa tidak pernah sepi.


Pameran kopi internasional secara rutin diadakan di berbagai kota di Amerika Serikat dan Inggris. Di sana disajikan bukan hanya beragam produk kopi dari pelbagai belahan dunia, tetapi juga teknologi untuk mengolah kopi. Kopi mentah bila dimasukkan dari satu sisi ke dalam sebuah mesin modern akan keluar dari sisi yang lain dalam wujud minuman panas yang siap saji, yang tentu saja nikmat tiada tara!


Kopi adalah devisa utama negara Ethiopia. Tergolong negeri yang sangat miskin, di mana devisa yang masuk tidak berimbang dengan budget belanja negara. Negeri ini tidak memiliki pantai dan pelabuhan, itulah sebabnya nilai perdagangan tidak berimbang. Negeri ini bukan penghasil minyak dan hanya bergantung pada harga pasar kopi sebagai tiang penopang ekonomi negara. Sayangnya, angka korupsi juga sangat tinggi di Ethiopia. Sama dengan Indonesia? Engkau yang dapat mengobservasinya, Kawan.


Sayang teramat sayang, perdagangan dunia dikuasai oleh sistem pasar bebas, yang sebenarnya tidak bebas! Negara-negara kayalah yang menentukan harga pasar yang konon bebas itu! Sistem ekonomi dunia bak dikuasai oleh imperium absolut (kekaisaran mutlak) yang pasti membuat kebijakan sedemikian rupa sehingga memakmurkan diri sendiri, dan pihak lain dianggap sebagai bagian dari kekuasaannya. Barangsiapa mau, ia akan sedikit makmur. Barangsiapa tidak mau, ia akan hancur. Ia akan terisolasi dari sebuah rukun kekaisaran ekonomi.


Siapa yang menjadi imperium ekonomi saat ini? Wall Street! Dan, London! Simaklah pertemuan-pertemuan WTO yang diadakan. Sesi-sesi pleno yang selalu alot dan nampaknya utusan Amerika Serikat dan Inggris merupakan kata final. Lobi-lobi antarnegara dunia ketiga hanya menghasilkan permufakatan bilateral, namun toh mereka tidak dapat bersuara, apalagi menyatakan veto. Perserikatan Afrika, pada pertemuan WTO yang terakhir meminta dengan keras agar suara negara-negara di Afrika didengar oleh negara-negara maju, namun hasilnya pun nihil. Basa-basi diplomatik dikumandangkan supaya membuat negara-negara yang sedang berkembang itu sedikit lega bahwa suara mereka sudah didengar.


Kopi, sebagai “emas berwarna hitam” dari Ethiopia itu tak kurang juga menjadi sasaran tembak imperium ekonomi dunia. Pangsa pasar kopi meningkat tajam, tetapi lagi-lagi harga pasar dimonopoli oleh New York dan London. Sehingga, dalam periode tahun 2005-2006 harga kopi perkilo terjun bebas hanya 1 Birr Ethiopia (ETB), yang kira-kira Rp. 800,00 sampai sekarang. Bahkan pernah, harga kopi hanya 0,5 Birr (Rp. 400,00). Maka, jika sekarang ini mereka dapat menghasilkan 500 kg kopi, mereka hanya mendapatkan uang Rp. 400.000,00. Katakanlah bila kopi dapat dipanen 2 kali setahun, mereka hanya mendapatkan uang Rp. 800.000,00. Padahal, para pekebun kopi harus siap dengan masa kering sehingga paceklik panen.


Para pekebun kopi di Ethiopia menjerit! Mereka jatuh melarat. Kondisi ini masih terjadi di banyak wilayah Ethiopia, khususnya para pekebun yang menyerahkan hasil kebun mereka kepada penadah, dan dari satu tangan ke tangan yang lain, sehingga kopi itu tak kurang melewati 6 tahap, sampai ke pelelangan kopi, untuk disesuaikan dengan harga pasar global hasil permainan pialang di New York dan London. Dapat dibayangkan tentu saja, berapa biaya yang harus dikeluarkan! Pekebun kopi yang telah miskin menjadi kian melarat, dan harga dimainkan oleh para eksportir.


Mengapa Starbucks tidak ada di Ethiopia? Karena bahan mentah Starbucks diambil dari Ethiopia Selatan, yaitu daerah Sidamo yang terkenal menghasilkan kopi terbaik. Di Ethiopia ada beberapa daerah penghasil kopi, dan kopi-kopi itu berkualitas tinggi. Namun, daerah Sidamo adalah daerah yang miskin teramat sangat. Wilayah di luar ibukota Addis Ababa, adalah wilayah yang sangat minim panas dan kering.


Sekarang bayangkan. Andai kata 1 kg kopi dapat menghasilkan 1000 cangkir kopi Starbucks @ USD 3. Berarti 1 kg kopi menghasilkan USD 3000 (sekitar Rp. 30.000.000,00 atau ETB 36.000). Padahal pekebun hanya menerima Rp. 800,00 perkilo kopi. Berarti untung yang diperoleh pengusaha warung Starbucks perkilo kopi adalah Rp. 29.999.200,00. Yang kaya menjadi makin kaya dan yang miskin menjadi makin miskin.


Baru-baru ini saya mendengar bahwa curah hujan meningkat, sehingga hal ini memberikan prospek lebih baik bagi para pekebun kopi. Ada juga kabar-kabar bahwa harga kopi membaik. Puji Tuhan. Namun, apa yang diharapkan oleh penggarap kopi ialah bahwa harga kopi dapat meningkat sampai ETB 5 (sekitar Rp. 4.000,00) saja, syukur-syukur bisa mencapai ETB 10 (sekitar Rp. 8.000,00). Alasan mereka sederhana, supaya anak-anak mereka dapat meneruskan sekolah! Hal ini belum terwujud, karena kuasa imperium ekonomi yang selalu lapar dan mencari mangsa untuk dicaplok.


****


Dalam konteks seperti ini, bagaimana teologi Kristen beroperasi? Tidak minum di kedai kopi bermerk asing bukanlah jawaban utama bagi teologi operatif. Tuhan yang kita sembah adalah Manusia sejati yang hidup dalam konteks buruh tani gurem. Ia bukan pedagang. Ia bukan tengkulak. Ia tidak pernah memiliki kuasa monopoli perekonomian. Namun Ia yang bangkit dari kematian adalah Tuhan di atas segala Kuasa.


Yang saya sebut “Kuasa” itu bukan setan dan roh gentayangan. Kuasa itu adalah suatu sistem monopoli politik, ekonomi, sosial. Kuasa itu bekerja bukan mempengaruhi, dalam arti membisik-bisiki oknum-oknum tertentu untuk menjadikannya doyan kekuasaan. Kuasa itu adalah sistem itu sendiri. Ia bekerja dari dan di dalam sistem tersebut!


Sistem global itulah yang sedang bekerja. Sekarang, bagaimana memerangi sistem global yang tengah meraja itu? Kitab Suci mengemukakan kebenaran yang “vulgar”: “Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka” (Kol. 2:15).


Kristus adalah Tuhan yang melawan kuasa sistem global. Pada zaman-Nya, Ia melawan Imperium Roma yang mengklaim pax et iustitia sebagai miliknya. Ia telah menang! Dengan kuasa kebangkitan-Nya, Ia ganti memakukan kuasa-kuasa itu di atas salib. Kristus tidak tunduk kepada kuasa global tersebut, sebaliknya, kuasa itu menjadi tidak berdaya di hadapan kemenangan-Nya. Bahkan, kuasa itu kini ditelanjangi dan dijadikan tontonan tiada daya.


Jika benar Kristus telah menang, maka kemenangan itu tetap berlaku dan berjaya kini dan di sini. Klaim kuasa ini sekarang diberikan kepada gereja-Nya, atau siapa pun yang menyatakan mengikuti Dia dan mengakui Dia sebagai Tuhan dan Penguasa satu-satunya. Itu berarti, merupakan tugas gereja, untuk tidak berkompromi dengan sistem global yang menyengsarakan. Itu berarti para pengikut-Nya harus mengupayakan alternatif pola hidup dari sistem global. Itu berarti setiap orang Kristen harus bekerja sungguh-sungguh untuk mengusahakan terwujudnya perdamaian yang ditandai oleh keadilan yang sejati. Itu berarti, dalam konteks Ethiopia, orang Kristen yang mengupayakan hadirnya shalom tersebut harus mendampingi dan berjuang bersama para pekebun kopi yang nasib hidupnya ditentukan oleh harga kopi di pasar.


****


Mungkinkah itu terjadi? Mungkin! Dan hal itu sudah dan sedang dilakukan oleh anak Tuhan di Addis Ababa. Ia seorang Kristen Injili, anggota gereja Mennonite Ethiopia yang lebih dikenal sebagai Meserete Kristos Church (MKC). Namanya Bp. Tadesse. Ia tidak tahan melihat pasar kopi internasional yang menghancurkan bangsa dan negerinya sebagai penghasil kopi terbaik. Ia dapat saja menjadi tengkulak dan mengeruk banyak keuntungan. Tetapi ia tidak mau!


Ia mendirikan sebuah perserikatan penggarap kopi. Upaya ini mirip koperasi di Indonesia. Ia mencari peluang untuk mengumpulkan kopi-kopi terbaik dari seluruh negerinya. Ia bersafari ke sana-sini. Ia menyadarkan pekebun kopi di pelbagai area di Ethiopia, berapa harga perkilo kopi mereka dan berapa harga secangkir kopi di luar negeri. Setelah itu, ia ajak mereka semua untuk menyalurkan kopi mereka kepada perserikatan penggarap kopi itu, untuk disalurkan ke importir independen di Amerika Serikat dan Inggris. Ia mengadakan perjalanan ke sana-sini untuk memromosikan kualitas kopi Ethiopia. Ia mendanai sendiri keikutsertaannya dalam konferensi kopi dan pameran kopi di Amerika Serikat, dengan tujuan agar kopi Ethiopia kian dikenal oleh luar negeri dan ia mendapatkan pasar yang baik. Di setiap pameran ia tidak pelit untuk memberikan sample gratis secangkir kopi ataupun biji kopi mentah untuk para pengunjung yang sempat mampir di stand-nya.


Hasil penjualan kopi itu dibawa pulang, lalu ia mengumpulkan para pekebun kopi di desa-desa mitra perserikatan di atas. Ia memberikan kepada mereka nilai uang penjualan yang jauh lebih baik. Dan ia juga menyisakan sejumlah hasil untuk perbaikan gedung sekolah di desa itu, sehingga mutu pendidikan bagi generasi muda dapat ditingkatkan.


Tadesse sendiri adalah seseorang yang hidup dengan sangat sederhana. Ia mencukupkan diri dengan hidup yang secukupnya. Ia tidak memboroskan uang untuk diri sendiri dan keluarganya. Ia mempunyai 3 ekor sapi perah dan susunya untuk gizi keluarganya. Dengan demikian, ia menekan banyak pengeluaran. Istrinya mengakui bahwa Tadesse adalah seorang pekerja keras. Ia berjuang dengan gigih dan sering lupa waktu untuk memperbaiki taraf hidup para penggarap kopi.


Entah disadari oleh Tadesse atau tidak, ia sedang berjuang melawan imperium ekonomi. Ia melawan kuasa global yang memeras dan menindas. Namun paling tidak ia tahu, ada sesuatu yang salah, dan hal itu tidak boleh terus-menerus terjadi. Harus dipangkas. Harus disudahi. Sebagai seorang Kristen, ia melakukan hal yang ia dapat lakukan. Dan ia melakukannnya dengan setia!


Itulah “teologi” Tadesse. Teologi yang tidak dilakukan untuk orang-orang mati dan bersama orang-orang mati. Teologi yang tidak berkutat pada benar-salahnya pemikiran orang kulit putih, laki-laki, produk Eropa atau Amerika. Teologi yang tidak memusingkan diri pada teks kuno dan asyik di laboratorium dan perpustakaan serta ruang kuliah sebagai zona aman dan nyaman bagi para teolog; tetapi teologi yang seperti rasul Paulus katakan sebagai penerima tugas dari Tuhan yang bangkit dari antara orang mati, “Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum-hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan” (2Kor. 3:6).


Apa artinya menjadi “pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru”? Kau dan aku yang dapat menjawabnya, Kawan! Di konteks Indonesia. Di Ethiopia. Di mana saja.


Igzhabehr Yimsken!

Addis Ababa, 6 September 2009

JEJAK KECIL DI KOTA BUNGA BARU (2)

JEJAK KECILKU DI KOTA BUNGA BARU (2): KISAH SECANGKIR KOPI


Aku sebenarnya ingin berbagi kisah mengenai kelas Amharic-ku. Tapi aku mengubah rencanaku. Syukur kepada Allah, tempat yang Ia berikan bagiku untuk mengecap pengalaman pertama lintas budaya adalah Ethiopia. Sebuah negeri yang kaya akan sejarah politik, religius dan aneka ragam etnik dan budaya. Tetapi ada hal lain yang menggugah semangatku berada di negeri ini. Kopi! Ya, negeri ini merupakan penghasil kopi arabica terbaik di seluruh dunia.


Begitu aku tahu bahwa asal-muasal minuman kopi adalah Ethiopia, aku teramat bersemangat untuk cepat-cepat pergi ke negeri ini. Aku ingin membuktikan, karena ada sedikit keraguan dalam hatiku. Negeri asalku, Indonesia, sebenarnya juga penghasil kopi enak. Dan bagiku, kopi Indonesia termasuk salah satu yang paling nikmat di dunia. Indonesia adalah penghasil kopi robusta terbaik. Tidak percaya? Silakan coba!


Namun demikian, Ethiopia dipercaya merupakan negara penghasil kopi arabica terbaik. Selama mengikuti orientasi IVEP/SALT/YAMEN! di Akron, aku ditempatkan dengan seorang IVEP-er dari Ethiopia bernama Tedi. Ia banyak bercerita mengenai iklim, kultur dan Kekristenan di negerinya. Satu hal yang ia banggakan adalah kopi. Sempat aku perhatikan, ia meminum kopi dengan garam, paling tidak satu sendok teh. Itu kira-kira sama dengan setengah takar gula yang biasanya kucelupkan dalam cangkir kopiku. Gila! Gimana tuh rasanya? Dia bilang, “Banyak orang minum kopi dengan gula, tapi aku lebih suka minum kopi dengan garam!” Bisakah kaubayangkan rasa dan aroma kopi dengan garam sebanyak itu?


Memang benar, di Indonesia, ada kebiasaan beberapa orang mencelupkan sejumput garam ke dalam kopi. Tetapi, sedikit sekali! Entah merupakan kebenaran atau efek psikologis, katanya garam itu membuat kopi lebih terasa keras dan kuat sehingga membuat si peminum terjauh dari rasa kantuk. Atau, entah bilamana garam itu larut ke air kopi, ikatan partikel garam dan kopi akan menghasilkan senyawa yang “merusak” partikel kopi; dan senyawa itu memiliki efek kimiawi sehingga membuat orang terjaga. Tampaknya belum ada laporan ilmiah dari laboratorium tentang hal ini. Tetapi logika sederhana saja bagiku. Mengapa orang yang minum kopi dengan garam menjadi betah begadang? Mungkin karena rasa yang aneh dan mengagetkan. Sehingga, syaraf yang membuat orang tahan begadang menjadi lebih kuat bekerjanya. Tapi, entahlah . . . .


Memang, selama di Akron, aku tidak menjumpai kopi seenak kopi Indonesia. Di pondok tempat aku menginap, aku jumpai kopi dari Colombo, Amerika Latin. Aduh, enteng sekali. Di setiap kali jam makan juga disediakan kopi, rasanya hambar. Aku berkata kepada Tedi suatu hari, “Hei, tahu nggak, kalau Indonesia punya kopi yang paling enak di dunia?” Dia sontak berkata, “No way! Aku nggak percaya sama sekali. Kalau nanti kaurasakan kopi Ethiopia, baru kautahu mana kopi yang paling enak! O ya, aku juga bawa kopi dari Ethiopia!” Ia keluarkan sebungkus kopi seukuran kira-kira 0,5 kg. Sayangnya, aku tidak sempat mencicipi kopi itu karena masih terbungkus rapi dan Tedi hendak menikmatinya di tempat kerjanya di Fresno, California.


Yah, tak apalah! Sebentar lagi juga toh aku akan mencicipi kopi Ethiopia. Bahkan bisa jadi, aku dapat menikmatinya setiap hari!


Kopi pertamaku aku dapatkan di pesawat terbang Ethiopian Airlines nomor penerbangan ET501, yang terbang dari bandara Dulles Washington D. C. menuju Addis Ababa pada Minggu, 16 Agustus 2009. Aku sempat bertanya kepada kawan yang duduk di sebelahku, di kelas ekonomi, ketika pramugari menawarkanku minuman dan aku meminta kopi, apakah ini kopi Ethiopia? Kawan sebelahku itu, yang adalah orang Kristen Injili dari aliran Lutheran (mungkin ia pergi ke gereja yang memiliki sekolah bahasa Amharic-ku di Mekanissa Yesus Evangelical Church) yang sedang berlibur dari studi di di Alabama, Amerika Serikat, berkata, “Ya, ini kopi Ethiopia. Bagaimana menurut Anda, Pak Pendeta?” Ia mengenal aku sebagai pendeta karena sewaktu aku memperkenalkan diri, aku katakan bahwa diriku seorang youth pastor. Dan barulah aku tahu, orang Kristen Injili Ethiopia sangat menghormati pendeta. Mungkin hal ini diturunkan dari rasa hormat kepada imam Gereja Orthodoks (kapan-kapan aku akan bercerita lebih lanjut mengenai hal ini).


Bagaimanakah kesan pertamaku dengan kopi Ethiopia? Awesome! Aku minta kopi hitam dan gula. Hmm, benar-benar nikmat!


****


Tahukah kau akan kisah bagaimana minuman kopi itu ditemukan? Patut kita bersyukur kepada Allah bahwa penemuan kopi itu ternyata ada kait-mengaitnya dengan tradisi dalam Kekristenan yang tergolong paling tua, yaitu Kekristenan Orthodoks Ethiopia.


Alkisah di masa silam, di tanah Abbysinia (sekarang Ethiopia) tersebutlah seorang anak bernama Kaldi. Kaldi hidup di mana orang-orang Ethiopia masih banyak yang buta huruf. Pekerjaannya juga tidak terpandang. Ia hanyalah penggembala kambing domba! Suatu kali, si Kaldi kecil menggembalakan kambing dan dombanya di padang belantara. Ia duduk di bawah sebuah pohon rindang, mengeluarkan seruling dan mulailah ia memainkan serulingnya. Musik merdu khas penggembala mengumandang, sementara ternak-ternaknya asyik mencari makanan. Ada yang merumput. Ada yang mendekati semak belukar dan memakan apa yang ada di dahan.


Tiba-tiba, Kaldi terperanjat dari tempat duduknya. Ia menghentikan permainan serulingnya. Ia mengamati kambing dan dombanya! Ia melihat ada yang lain dengan sejumlah ternak gembalaannya. Ia usap-usap matanya, dengan sejuta pertanyaan dan rasa ingin tahu yang mendalam. Ia keheranan.


Dilihatnya sebagian kambing dan domba yang makan di antara semak belukar menari-nari dengan girang-lincah! Rasa ingin tahunya kian menjadi-jadi. Didekatinya gerumbulan belukar itu, dan ditemukanlah buah-buah kecil, merah ranum. Ia raih satu buah dan menggigitnya. Rasanya tidak enak. Tetapi toh ia menelannya. Dan tiba-tiba, ia merasakan perubahan dalam dirinya. Ia menjadi bersemangat. Rasanya ada sesuatu yang mendorong dia untuk bergirang gembira. Ya, sama seperti kambing dan dombanya yang memakan sesuatu dari semak belukar itu. Aha, pikirnya, buah inilah yang membuat kambing dan dombanya beria-ria! Pelajaran moral pertama: kalau mau menjadi orang yang penuh kegembiraan, jadilah penggemar kopi!


Ia tak sabar menceritakan apa yang ditemukan ini kepada orang lain! Ia memetik sejumlah buah “ceri” merah itu, dan berlari-lari menjumpai para rahib (pertapa) Orthodoks Ethiopia yang sedang berkumpul dalam sebuah ibadah doa. Kaldi pun menyerahkan kopi dalam genggaman tangannya itu kepada para rahib Orthodoks tersebut. Pelajaran moral kedua: kalau sudah kenal nikmatnya kopi, jangan lupa dengan pendeta. Berbagilah kebahagiaan menikmati kopi dengan pendetamu. Atau, undanglah pendeta untuk minum kopi bersamamu.


Para rahib pun menerima buah ceri merah dari Kaldi. Mereka menggigitnya. Tidak enak! Tetapi mereka juga merasakan efek lain dari buah itu, yang membuat mereka tetap bergairah. Akhirnya para rahib itu menemukan ide. Mereka menggerus dan melumatkan buah ceri itu, menuangkan air dan meminumnya. Makin lama, para rahib itu pun tahu bagaimana meracik dan menyajikan minuman dari buah ceri itu. Terciptalah minuman berwarna hitam yang paling banyak digemari di seluruh dunia. Pelajaran moral ketiga: jadi pendeta memang dituntut untuk selalu kreatif dan memutar otaknya; kalau tidak, jemaatnya bakalan lari karena teramat banyak pilihan yang menggugah selera di sekitar mereka.


Singkat cerita, minuman nikmat itu disebut buna dalam bahasa Amharic (atau dalam bahasa Indonesia “kopi”). Di Ethiopia, kopi menjadi minuman sakral! Karena kopi dihidangkan dalam acara doa di antara para rahib Orthodoks Ethiopia. Mereka membakar kemenyan (incense) dan menaikkan doa-doa dan membaca mazmur. Bagi para rahib, mereka minum kopi supaya mereka tetap terjaga untuk berdoa semalam suntuk. Pelajaran moral keempat: jadi pendeta jangan suka tidur; pendeta suka minum kopi agar betah melek dan berdoa semalam suntuk; juga ingat, minum kopi itu sakral bagi pendeta!


****


Demikianlah kisah ditemukannya minuman kopi. Di Ethiopia, khususnya Addis Ababa, di banyak tempat ada kedai kopi yang sangat beken bernama Kaldi’s Coffee, mungkin dimaksudkan untuk mengenang si gembala yang secara tak sengaja menjadi pionir penemuan minuman kopi. Jika kau kelak sempat jalan-jalan ke Addis Ababa, dapat kau lihat brand Kaldi’s Coffee sekilas mirip dengan Starbucks Coffee, dengan lingkaran hijaunya yang khas. Tetapi jika diamati ternyata beda juga, karena di tengahnya ada gambar cangkir kopi dan biji-biji kopi berserakan.


Sampai saat ini, di Ethiopia ada waktu-waktu khusus bagi pemeluk Orthodoks Ethiopia untuk mengadakan upacara minum kopi. Mereka mengambil (atau membeli) beberapa ikat rumput tertentu yang masih segar, lalu digelar di dalam rumah dan orang-orang yang diundang (biasanya sahabat-sahabat baik) duduk di atas rumput hijau itu. Aroma khas rumput segar memenuhi ruangan. Lalu tuan rumah akan membakar kemenyan, mengajak menaikkan puji-pujian dalam bahasa Amharic atau Ge’ez (bahasa Ethiopic kuno), serta doa-doa. Sembari itu, nyonya rumah menuangkan kopi ke dalam cangkir kecil-kecil (ingat cangkir upacara minum teh di Jepang!), dan menyajikannya kepada para hadirin. Ada kalanya, imam Orthodoks pun diminta hadir untuk memimpin upacara minum kopi itu.


Menarik bukan kisah tentang kopi? Apa yang aku renungkan dari hal sederhana, minum kopi! Sering kali hal yang sederhana dalam hidup ini tidak kita lihat dalam kerangka religius. Sebab, hal itu sudah terlampau biasa. Cobalah kita pikirkan mengenai udara, air, hujan, panas matahari. Adakah di antara kita yang masih sempat mengucap syukur karena Tuhan memberikannya kepada kita detik ini? Demikian pun minum kopi. Hidup dalam dunia modern membuat kita berpikir terkotak-kota: yang ini wilayah sekular, yang ini religius.


Hendaknya tidak lagi demikian. Aku ingin belajar untuk mengucap syukur dalam segala hal. Mengucap syukur berarti menjadikan hal-hal yang biasa kita terima merupakan bagian dari berkat Allah. Dengan kata lain, menjadikan sesuatu yang sederhana sakral. Ketika seseorang dapat mengucap syukur untuk hal-hal yang sederhana, ia sesungguhnya merasakan “kecukupan hidup” (satisfaction atau contentment), kecukupan yang diterima karena berkat Tuhan melimpah dalam hidupnya pada hari ini.


Aku teringat kepada salah satu dosenku di seminari yang berkata, “Kalau nanti di surga, salah satu orang yang ingin saya temui pertama-tama adalah penemu kopi!” Nah, pribadi itu ternyata seorang anak penggembala Abbysa, dari tanah Ethiopia!


Akhir kata, berbahagialah orang Kristen yang suka kopi. Berbahagialah pendeta yang minumannya kopi. Karena dengan minum kopi berarti ia betah begadang untuk berdoa dan mempelajari firman Tuhan. Namun terlebih berbahagia para pendeta yang gemar berbagi kopi dengan atau mengundang rekan-rekan sejawatnya merasakan nikmatnya kopi. Karena mereka ini akan menemukan kolegialitas yang sejati. Setuju?


Igzhabehr Yimsken!

Addis Ababa, 4 September 2009

JEJAK KECIL DI KOTA BUNGA BARU (1)

JEJAK KECIL DI KOTA BUNGA BARU (1)


“Ethiopia . . . ,” segera kita ingat penggalan syair Iwan Fals. Aku tak tahu apa-apa tentang negara ini. Memimpikannya pun tidak pernah. Yang kutahu, negeri ini pernah mengalami bencana kelaparan yang demikian dahsyat di era 1980-an. Ya, dari layar TV 17 inci yang masih hitam-putih merk National kala aku masih kecil, aku ingat bencana kemanusiaan yang sangat besar di negara Afrika ini!


“Apa, Ethiopia?” Demikian bisikku dalam hati, ketika Jeanny Jantzi, Mennonite Central Committe Country Representative untuk Indonesia menawariku pergi ke negeri ini dalam program Young Anabaptist-Mennonite Exchange Network yang merupakan program gabungan Mennonite World Conference (MWC) dan Mennonite World Committee (MCC). Padahal, aku ingin ke Yunani, atau ke Rusia, atau paling tidak ke Mesir. Yang selalu terbayang di hatiku kala itu adalah Mesir. Negeri yang panas? Tidak apa-apa! Aku ingin pergi ke sana. Aku ingin belajar sesuatu dari sejarah panjang Mesir yang luar biasa itu. Bagiku, pengalaman ini akan sangat membantuku dalam pelayanan dan pengajaran di gereja tatkala aku pulang.


“Saya rasa, Ethiopia memiliki sejarah Kekristenan yang sangat panjang dan luar biasa,” demikian kira-kira kata Ibu Jantzi di kantor MCC Salatiga. O ya? Tanyaku dalam hati! Apa yang menarik? Sepulang dari Salatiga, aku segera mencari data mengenai Kekristenan di Salatiga. Wow! Ternyata, di luar bayangan dan dugaanku! Aku temukan nama-nama yang sering kubaca dalam Alkitab: ratu Syeba, sida-sida dari Ethiopia . . . dan Tabut Perjanjian! Sebagian tempat yang ada di Alkitab, misalnya Kush yang kemudian juga dikenal sama sebagai Ethiopia, sekarang ini telah menjadi bagian negara Sudan.


Sebagai seorang pecinta dan pengajar Alkitab, aku menyukai hal-hal yang berhubungan dengan Alkitab: ragam bahasa Alkitab, tafsir, teologi, arkeologi, sejarah, filosofi dan khasanah spiritualitas, arsitektur gereja, liturgi, musik ibadah, ikonologi, politik. Terlampau banyak yang aku sukai. Aku sadar, terlalu beragam! Tetapi setiap kali ada kajian baru yang berbau salah satu hal di atas, selalu saja membuat mataku terbelalak dan pikiranku tidak bisa diam untuk mengajukan sederet pertanyaan karena desakan rasa ingin tahu.


Beberapa waktu belakangan, aku tertarik untuk mempelajari Kekristenan Orthodoks. Itulah yang aku inginkan. Sebagai utusan MWC, aku ingin membuka peluang bagi dialog Mennonite dengan gereja-gereja Orthodoks. Gereja Mennonite telah berdialog dengan gereja-gereja Reformed di Eropa, Gereja Lutheran, Katolik Roma, Gereja Baptis; tetapi dengan Gereja Orthodoks, belum ada. Yang kutahu, baik MWC maupun sejumlah besar gereja Orthodoks merupakan anggota Dewan Gereja Dunia. Tetapi, entah dengan Gereja Orthodoks Ethiopia.


Tidak adanya dialog dari kedua tradisi ini kemungkinan oleh karena tidak adanya kait-mengait secara langsung dalam sejarah gerakan Anabaptis. Dengan gereja-gereja Reformed, Lutheran dan Katolik Roma, kaum Mennonite pernah mengalami 200 tahun penganiayaan. Akan tetapi, bagiku dialog bukan hanya untuk menyembuhkan luka-luka lama dan rekonsiliasi atas retaknya tali keluarga Allah, tetapi juga menumbuhkan pengenalan bersama di dalam keberagaman tubuh Kristus. Di sinilah, dua tradisi yang tidak pernah saling mengenal, Mennonite dan Orthodoks, dapat berjumpa, bercakap-cakap dengan hangat dan menemukan garis pemahaman bersama mengenai arti persekutuan, Kerajaan Allah, perdamaian, keadilan dan ciptaan baru.


****


Kristen Orthodoks sendiri terdiri dari berbagai macam jenis: Yunani, Rusia dan Oriental. Ethiopia memiliki sejarah Orthodoksi yang khusus, yang berbeda dengan gereja-gereja Orthodoks yang lain. Sebab, Gereja ini mengklem memiliki Tabut Perjanjian yang otentik, yang asli, yang dibawa dari Yerusalem ke Ethiopia bersama dengan kunjungan Ratu Sheba dan putranya Menelik I yang merupakan putra mahkota Salomo untuk menjadi penguasa wilayah Ethipia.


Jadi, pada masa kudeta terhadap Salomo, sejumlah besar imam Bait Suci Yerusalem hijrah bersama iring-iringan kerajaan Ethiopia, dan dalam rombongan ini dibawalah Tabut Perjanjian. Hingga sekarang, tabut itu tersimpan di Gereja Orthodoks Perawan Maria dari Sion, di kota Aksum (Axum), jauh di sebelah utara kota Addis Ababa. Tetapi, untuk melihatnya hanya ada 1 orang yang diperbolehkan, yaitu seorang imam Gereja Orthodoks yang dipercaya merupakan keturunan imam besar Yahudi yang turut dalam rombongan di atas. Orang ini pun jarang terlihat keluar dari dari gereja yang ukurannya tidak besar itu. Pekerjaannya tiap-tiap hari adalah menyanyikan mazmur atau doa-doa di dalam “kapel” yang konon menyimpan tabut perjanjian itu.


Catatan mengenai perjalanan panjang Tabut Perjanjian itu sendiri terdapat dalam kitab penting berjudul Kibre Nagast, yang berarti “Kemuliaan Raja-raja.” Buku aslinya kalau tidak salah terdapat di biara Debre Damo, sebuah biara yang terletak di atas pegunungan di daerah Tigray, Ethiopia Utara; untuk mencapainya, seorang pengunjung harus diikat dengan tali dan ditarik dari atas oleh para biarawan. Dan, daerah ini hanya diperuntukkan bagi kaum laki-laki.


Bagaimana Kekristenan dapat masuk ke Ethiopia diduga ada hubungannya dengan sida-sida dari Ethiopia yang dibaptis oleh diaken Filipus (Kis. 9). Namun, tidak pernah ditemukan jejak-jejak catatan ataupun kenangan dari para pendahulu Gereja Orthodoks tentang kiprah penginjilan sang sida-sida. Yang paling jelas adalah kesaksian Frumentius di abad ke-4 M., seorang Orthodoks Koptik yang menjadi budak untuk kerajaan Ethiopia. Dari kesaksiannya secara verbal dan gaya hidupnya, banyak orang yang dibawa kepada Kristus. Kemudian, ia menghubungi uskup di Aleksandria, Mesir, untuk mengirimkan pemimpin Kristen ke Ethiopia. Atas keputusan Uskup Aleksandria, yaitu Athanasius Agung, Frumentius ditahbiskan sebagai uskup bagi Gereja Ethiopia. Itulah sebabnya, Frumentius sangat dihormati dan dikenang, sehingga di dalam semua gereja Orthodoks Ethiopia, terdapat ikon St. Frumentius bersandingan dengan St. Athanasius Agung.


Gereja Orthodoks Ethiopia tetap di bawah “sinode” Gereja Orthodoks Koptik hingga zaman kaisar Haile Selassie I di tahun 1940-an yang menghendaki Gereja Orthodoks Ethiopia memiliki Patriakh sendiri. Permintaan ini dikabulkan oleh Gereja Koptik. Hingga sekarang, hubungan Gereja Koptik dengan Gereja Ethiopia masih berjalan baik.


Masih banyak lagi keindahan yang negeri ini simpan. Ada gereja-gereja kuno dari Granit utuh yang ditatah dan dibentuk menjadi bangunan gereja, yang kebanyakan berada di provinsi Tigray. Salah satu yang terkenal adalah Gereja St. Giorgis (George) di Lalibela yang berumur 900-an tahun. Gereja dengan penampang arsitektur salib, yang dibangun dengan cara menggali dan menatah batu granit besar utuh, dengan hiasan fresco dan ikon yang indah di dalamnya.


Belum lagi kekhasan yang dimiliki oleh ikon-ikon Ethiopia, yang tidak ada di ikon Yunani ataupun Rusia. Mirip dengan Mesir, dengan pemilihan warna-warna terang dan menyolok dan mata lebar, satu kekhususan yang dimiliki ikon Ethiopia adalah setiap kali menggambarkan figur antagonis (orang jahat), pasti menyamping sehingga hanya kelihatan satu mata saja.


****


Ya, aku mau ke Ethiopia! Tepat dengan minatku. Tetapi, Ethiopia tentu panas dan menyengat! Itulah yang sempat terlintas. Tetapi dugaanku itu salah. Ketika mendarat di Bole International Airport, Addis Ababa, pada Minggu 16 Agustus 2009 pukul 19.00 setelah perjalanan jauh dari markas MCC di Akron, Pennsylvania, Amerika Serikat, untuk acara orientasi dan konferensi para peserta pertukaran pemuda dari seluruh dunia, dan menunggu selama 5 jam di Dulles International Airport di Washington D. C., aku berkata kepada Mekonnen, anggota staf MCC Ethiopia yang menjemput aku, “Wah, kota ini cuacanya cool, aku suka sekali!”


Sepanjang perjalanan menuju tempat tinggal sementara, kulihat kanan dan kiri. Kota Addis Ababa yang sedang membangun! Hari sudah malam, dan kesan pertamaku atas kota ini: lumayan menarik, kotanya seperti Jakarta, atau paling tidak Semarang. Aku akan belajar menyukai kota ini, karena aku memang akan tinggal di sini selama hampir satu tahun. Memang, jauh lebih ramai daripada Akron yang sepi sunyi dan lengang. Di Akron kulihat banyak mobil, tetapi tidak ada orang yang keluar. Jalan-jalan sepi. Rumah-rumah berjajar rapi. Taraf kehidupan penduduk hampir berimbang. Di Addis Ababa, banyak orang berjalan kaki, banyak pula orang-orang yang mengemudikan kendaraan. Rumah-rumah beraneka ukuran.


Aku melihat banyak orang yang berkulit lebih gelap dari aku yang sudah terbilang gelap di negeriku sendiri. Namun, tidak segelap orang-orang Afrika dari negara lain seperti Sudan, Somalia atau Congo. Paras wajahnya pun berbeda. Bisa dibedakan, antara orang Ethiopia dengan orang-orang di wilayah lain di Benua Hitam ini.


Begitu sampai di tempat tinggal kami, yaitu compound MCC di daerah Zanaburg, Addis Ababa, aku merasa udara dingin yang sangat menusuk. Dingin sekali! Aku lihat di termometer cuaca kala itu 45oo C. F, sekitar 10-12 Aku diberi tempat di sebuah kontainer trailer yang disulap menjadi ruang kamar yang mungil tetapi nyaman sekali. Aku senang tinggal di dalamnya. Di atas tempat tidurku telah disiapkan 4 lapis selimut siap pakai. Ah, hanya saja, dinginnya malam itu bukan kepalang. Aku sudah memakai jaket, tetapi masih saja merasa kedinginan. Esok paginya, pembantu rumah tangga yang bernama Yeshi memberiku tambahan selimut yaitu “kantong tidur” yang biasanya dipakai untuk berkemah. Nah, inilah yang membuatku lebih hangat dan nyaman di malam hari berikutnya.


Kegiatan hari keduaku di Addis Ababa adalah, belajar bahasa Amharic di Sekolah Bahasa milik Gereja Mekane Yesus (Lutheran). Nantikan kisahku . . . .


(bersambung)

Saturday, June 20, 2009

Pergumulan Gereja tentang Ajaran yang Sehat (2)


Caranya?


Adalah benar bahwa tidak seorang pun dapat membuat penilaian atau penghakiman yang sempurna. Kecuali Tuhan Yesus sendiri! Bahkan para saleh dan leluhur iman kita pun bisa tidak sepakat dalam hal-hal tertentu. Mempelajari sejarah gereja, ketidaksepakatan memang ada. Yohanes Calvin menentang Kardinal Sadoleto. Martin Luther melawan Erasmus. George Whitefield melawan John Wesley. Ini baru wacana mengenai kedaulatan Tuhan dan kehendak bebas manusia di seputar zaman Reformasi!


Pertentangan para pemimpin gereja itu kerap menjadi senjata, sehingga banyak orang malas mempelajari teologi. Yang ini melawan yang itu. Yang di sana ditentang yang di sini. Jadi, mengapa harus memercayai mereka? Perbedaan di antara mereka terlampau ditonjol-tonjolkan.


Dalam pada itu, mari kita mencoba melihat sisi lain. Dalam sejarah gereja, ada upaya-upaya doktriner untuk mempersatukan keyakinan Gereja Tuhan. Di tengah kontroversi mengenai Perjamuan Tuhan antara Luther dan Zwingli, Yohanes Calvin menengahi. Martin Bucer menjadi pelopor reformasi yang memotivasi Strassburg menjadi kota yang sejuk dan damai bagi kaum Protestan, Katolik bahkan Anabaptis. Dari sini dapat disimpulkan, pemahaman yang benar akan doktrin justru mendorong upaya-upaya penyatuan tubuh Kristus.


Beberapa prinsip yang perlu kita pegang dalam memberikan penilaian mengenai ajaran adalah sebagai berikut.


Pertama, kerendahan hati, bukan kesombongan. Mentalitas Farisi yang dibedah habis oleh Yesus adalah kesombongan yang tidak peka dengan kesalahan sendiri. Coba perhatikan Matius 7.3-4, “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu?”


Yesus nampaknya sedang mengajar dengan bercanda. Coba bayangkan, suatu kali Anda melihat di gereja seseorang yang di matanya menempel balok besar. Lalu orang itu berkata kepada kawannya, “Hai kawan, di matamu ada bubuk kayu. Mari kuambilkan!”


Mari kita renungkan hidup menggereja saat ini. Ada orang yang memiliki keprihatinan terhadap pembangunan tubuh Kristus. Gereja harus menjadi gereja yang tertata dan berjalan dengan benar: baik dalam pengajaran mimbar, dalam administrasi, maupun dalam kegiatan-kegiatan komisi. Itu baik.


Namun, upaya untuk itu ialah dengan menyodorkan sederet nama pengkhotbah ternama dan terlaris. Supaya jemaat dibangunkan dari “tidur rohani”! Kalau perlu, dicarikan sponsor khusus sebagai pendukung. Kalau dicermati, sesungguhnya orang ini sama sekali tidak berminat dalam kebenaran! Balok di matanya belum pula ia singkirkan, sementara ia sibuk dengan bubuk-bubuk kayu yang ada di mata orang lain.


Atau mungkin saja, seseorang tidak berani menilai ajaran, ya karena integritas hidupnya diragu-ragukan! Alias, ia tahu tentang banyak yang benar, tetapi sedikit bertindak yang benar.


Apabila seseorang hendak jujur di hadapan Tuhan, dan bila hasratnya semata-mata untuk menyenangkan hati Allah, maka ia tidak akan sembarangan menjatuhkan penghakiman ke pihak lain. Bukan karena lebih senior sehingga merasa banyak tahu dan tahu banyak. Bukan karena telah membaca lebih banyak buku. Tetapi semata-mata karena sadar diri akan posisinya di hadapan Allah dan Mesias Yesus; orang ini tidak akan menghakimi dengan motivasi dan cara yang salah. Maka, semakin kita rendah hati, semakin besar belas kasihan yang kita tunjukkan kepada orang lain.


Kedua, berdasarkan fakta-fakta, bukan omong kosong. Semakin cepat kita menghakimi, semakin sedikit pula data yang kita pakai untuk melandasi argumentasi kita. Ada orang yang tahu banyak informasi, tetapi berserakan dan tidak tersusun. Ia cenderung cepat untuk menghubung-hubungkan informasi yang ada di kepalanya, menurut hasrat, naluri dan intuisi untuk menentang lawan debatnya. Yang paling gampang dimainkan ialah kutip-kutip ayat-ayat Alkitab. Marilah kita mendengar nasihat firman Tuhan mengenai hal ini, “Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya” (Ams. 18.13).


Seorang kawan saya, yang sangat kritis dan mengenyam pendidikan di sebuah perguruan tinggi di kota besar di Jawa Timur, pernah bertukar pikiran dengan seorang sahabatnya, Markus (bukan nama asli), mengenai fenomena KKR kesembuhan ilahi. Karena terdesak, Markus berkata, “Kamu tidak boleh menghakimi. Bagaimana kita tahu bahwa itu bukan dari Tuhan?”


Kawan saya segera menjawab, “Lhoo sebentar, saya punya data, dan saya melakukan pengamatan. Dari data itu, saya berkesimpulan, fenomena yang sedang marak ini sebagai tidak benar. Anda tidak punya. Ketika saya ungkapkan data saya, Anda malah mengatakan saya menghakimi. Nah, bukankah Anda yang telah menghakimi saya dengan tanpa data?”


Ya benar, Anda mungkin bertanya, memangnya berapa banyak data sih yang kita punyai? Jelas tak seorang pun yang menguasai semua data. Isi kepala kita ada batasnya. Penilaian kita mengenai sesuatu bisa salah. Namun, untuk menghindarkan diri dari penyimpulan yang sembrono, maka kita harus terus melatih diri untuk mengolah data, mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis terhadap data yang kita punyai, dan memiliki saksi-saksi.


Patutlah diingat, orang-orang yang mencintai pengajaran dan para pengembara kebenaran terus belajar untuk mengendalikan penghakiman. Tentu saja, dakwaan boleh ke semua pengkhotbah, tiap kali mendengarkan firman, tiap kali membaca buku atau menonton film. Bila kita tahu kita tidak memiliki informasi yang cukup, berhati-hatilah! Fakta yang cukup, data yang kuat dan argumentasi yang logis itu perlu.


Ketiga, perihal kata-kata dan tindakan, bukan motivasi. Kata orang bijak, “Dalamnya laut dapat diterka, dalamnya hati siapa tahu?” Hanya Tuhan saja yang mengetahui isi hati. Bila Anda mengikuti kebaktian di suatu gereja dan mendengar sang pengkhotbah berkata, “Bawa kemari hartamu! Itu akan menjadi investasimu di surga. Tuhan akan melipatgandakannya!” Anda kemudian berpikir bahwa si pengkhotbah itu tamak harta. Bagaimana Anda tahu, bila Anda tidak mengenalnya?


Yang Anda dapat ketahui dari kesaksian Alkitab adalah bahwa pengkhotbah itu mengikuti jalan guru-guru palsu. “Dan karena serakahnya guru-guru palsu itu akan berusaha mencari untung dari kamu dengan ceritera-ceritera isapan jempol mereka. Tetapi untuk perbuatan mereka itu hukuman telah lama tersedia dan kebinasaan tidak akan tertunda” (2Ptr. 2.3).


Jadi, kita seharusnya mengajukan kritik atas doktrin, metode dan gaya hidup seseorang, tetapi bukan isi hatinya. Ini bukan berarti kita berhenti menimbang-nimbang motivasi kita sendiri. Tanyakan selalu dalam diri kita, “Mengapa sih kita membuat penilaian terhadap ajaran orang lain? Apa yang mendorong kita mengritik guru-guru palsu, kebaktian yang seperti tontonan hiburan?”


Mari mengingat selalu perintah Yesus untuk pertama-tama menyisihkan balok di mata kita sendiri. Kemudian, motivasi kita seharusnya ditujukan untuk membimbing orang lain, dengan cara meneguhkan orang lain kepada jalan keselamatan yang sejati. Mari kita selalu terbuka kepada Allah yang menyelidiki hati kita yang paling dalam!


Keempat, isu-isu alkitabiah, dan bukan selera-selera pribadi. Bila Anda hendak mengritik, tanyakanlah: Kebenaran alkitabiah apa yang sedang disangkal? Kebenaran alkitabiah apa yang sedang digeser? Kebenaran apa yang sedang diabaikan? Kebenaran apa yang ditekankan secara tidak seimbang?


Memang, kita tidak mungkin dapat setuju dalam segala hal. Pemahaman yang terbatas itu dikendalikan oleh latar belakang dan pengalaman kita. Dalam menilai, hendaklah kita mampu merujuk pada ayat Alkitab atau prinsip kebenaran alkitabiah, sembari menyadari bahwa prinsip tersebut terbuka untuk dikoreksi. Perhatian dan motivasi kita adalah apa yang Allah nyatakan dalam Alkitab, bukan minat dan selera pribadi.


Tuhan Yesus menentang orang-orang yang menyelewengkan Kitab Suci. Rasul Paulus pun memperingatkan gereja untuk tidak digeser dari kebenaran Injil. Para penulis Surat-surat Umum dengan berkobar-kobar menyerukan agar gereja mengingat iman yang diajarkan oleh rasul-rasul Tuhan, dan menegaskan satu-satunya Kristus yang benar. Hal ini kiranya membuat ingat mengingat terus, pemahaman yang selama ini kita terima bisa saja salah. Namun kita dapat mengevaluasi demikian itu bila kita melakukan pertimbangan-pertimbangan dengan data yang baru.


Akhirulkalam


Sebaris kalimat dalam lagu Project Pop, “Apa yang dapat mempersatukan kita? Salah satunya dengan musik . . . Dangdut is the music of my country” menggelitik kita untuk berpikir. Apa yang mempersatukan orang Kristen? Paling tidak, substansi iman Kristen seperti tertuang dalam Pengakuan Iman Rasuli. Ada banyak hal yang berbeda pada masing-masing gereja. Namun gereja-gereja yang sejati adalah pewaris tradisi suci para rasul. Gereja-gereja Reformasi di seluruh dunia pun memiliki pengakuan-pengakuan masing-masing. Terdapat perbedaan di sana-sini. Tetapi, seperti yang diamati oleh Shirley C. Guthrie, teolog veteran dari Amerika Serikat, ada banyak persamaan yang mendasar, yang mencirikan gereja-gereja tersebut sebagai reformed.


Bagaimana gereja menghadapi pergumulan tentang ajaran sehat? Gereja harus berani mengambil posisi di atas dasar kebenara Tuhan sebagaimana diwahyukan di dalam Alkitab. Firman Tuhan adalah satu-satunya landasan. Gereja adalah pewaris kebenaran Allah. Apa yang bukan berasal dari firman Tuhan, gereja tidak perlu takut untuk memberi penilaian. Bila gereja berani mencoba-coba lalai untuk mempertahankan pokok-pokok dasar iman Kristen, maka kita pun akan kehilangan pengharapan akan kesatuan sejati dari tubuh Kristus!


TERPUJILAH ALLAH!


Pergumulan Gereja tentang Ajaran yang Sehat (1)


PERGUMULAN GEREJA TENTANG AJARAN YANG SEHAT



Perang Pasar di Gereja


Pergumulan gereja terberat tentang ajaran yang sehat sebenarnya bukan karena kemajemukan ajaran-ajaran. Memang, beragam pengajar dan pengkhotbah dengan gencar menawarkan produk terbaru mereka dengan memanfaatkan media-media terkini. Sementara itu, gereja-gereja tradisional masih menggantungkan penjangkauan massa dengan mimbar (khotbah) dan perkunjungan, dengan kegiatan dan pembinaan kategorial tetap berpusat di gedung gereja. Gereja tradisional, harus diakui, telah ketinggalan 5 sampai 10 langkah dalam marketing gereja.


Pergumulan yang lebih berat sesungguhnya dari dalam tubuh gereja sendiri. Gereja tidak berani bersikap! Mungkin lebih tepat, tidak boleh mengambil sikap. Para hamba Tuhan tidak berani lantang dalam mengambil posisi alih-alih mengurbankan “zona aman,” apalagi (maaf) bila tidak terus menggali potensi diri, sehingga akhirnya kehilangan daya kreativitas dan market share atau pangsa pasarnya.


Tentu saja, ini bukan selalu salah sang pelayan Allah, lebih-lebih bila tuntutan gereja begitu besarnya: satu hamba Tuhan harus dapat melakukan apa pun juga: khotbah, perkunjungan, pembinaan dan PA, kegiatan-kegiatan kategorial, bermain gitar, keyboard, dsb. Namun di pihak lain, ia dituntut untuk menjadi sama dengan para pengkhotbah yang tengah naik daun. Tetapi, bagaimana mungkin sang hamba Tuhan dapat mengembangkan dirinya dengan tuntutan yang sedemikian banyak, dan mungkin dengan dukungan daya dan dana pengembangan diri yang minimalis?


Larangan bagi hamba Tuhan untuk bersikap biasanya dilambari dengan ayat firman Tuhan, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi” (Mat. 7.1). Pendeknya, jangan sekali-kali berkata kepada orang lain, “Sesat!” Itulah kalimat yang paling tabu untuk diucapkan. Mengucapkan itu berarti menjatuhkan palu hakim. Reaksi orang yang mendengar dan yang tidak suka adalah, “Siapa kamu, kok berani-beraninya menghakimi!” Nampaknya, seseorang semakin dilarang untuk bersikap kritis. “Siapa sih yang sempurna?! Siapa sih kamu kok sombong merasa doktrinmu paling benar, dan doktrin yang diajarkan di gereja lain salah?” Di tengah peperangan pasar, ekspresi seperti ini menambah keruhnya pergumulan gereja tentang pengajaran sehat!


Mentalitas Farisi?


Memang benar, ada orang-orang yang sangat suka berdebat. Mereka hobi menghakimi. Mereka adalah kritikus andal yang terus mengasah mata panahnya, lalu membidikkannya kepada sasaran-sasaran yang kontra dengan mereka. Nah sayangnya, mereka ini biasanya orang-orang yang tidak hanya melontarkan kritikan kepada pihak lain dengan cara yang tidak benar, tetapi juga dengan dasar argumentasi yang tidak benar! Mereka melancarkan kritikan bukan oleh sebab mengerti pengajaran alkitabiah, tetapi cenderung berpijak kepada keyakinan-keyakinan pribadi yang selama ini mereka anut. Seperti Farisi pada zaman Yesus, yang menujukan mata mereka hanya kepada tata aturan hukum, dan mengabaikan keadilan dan welas asih.


Di sisi lain, ada orang-orang yang terlalu permisif. Toleransi mereka atas semua ajaran besar sekali. Semuanya dianggap benar. Semuanya dianggap baik. Kalau semua baik, maka semuanya benar. Yang penting, gereja AATM: adem ayem tentrem marem.


Kepada siapa Yesus melancarkan kalimat “Jangan menghakimi” itu? Kepada kedua pihak. Tetapi apakah kalimat tersebut berarti membuat kita tidak boleh menimbang-nimbang apa yang benar dan apa yang salah? Sama sekali tidak. Sebab, dalam konteks terdekatnya, Yesus berkata, “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.” O, bagaimana mungkin kita dapat belajar mematuhi ayat ini bila tidak belajar mengenali siapa “anjing” dan “babi” (ay. 6) yang dimaksudkan Yesus?


Selanjutnya di ayat 15, “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.” Wah, ucapan Tuhan ini keras sekali, bukan? Nabi-nabi palsu disebut sebagai serigala yang buas! Tetapi, bagaimana dapat mengenali nabi-nabi palsu? Tentulah dari apa yang membedakan mereka dari nabi-nabi yang benar, yaitu ajaran mereka.


Melangkah sedikit lagi, Yesus melanjutkan kalimat dengan lebih tegas lagi, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (ay. 21-23). Nah, gereja bisa salah dalam banyak hal, tetapi dalam hal yang satu ini, yaitu ajaran yang benar, gereja tidak boleh salah.


Hendaklah kita tidak menjadi seperti orang-orang Farisi, yang suka menghakimi tetapi buta terhadap kebenaran. Mereka memakai standar kesalehan pribadi. Tuhan Yesus melarang kita menjadi seperti mereka, tetapi tidak melarang kita untuk membuat penghakiman untuk hal-hal prinsip.


Wednesday, June 17, 2009

Dosa Ananias dan Safira (Kis. 5:1-11)


Dosa Ananias dan Safira: Pengkhianatan Atas Kemurnian Persekutuan

Kisah Para Rasul 5:1-11



Gereja Tuhan dicirikan oleh kesatuan hati dan jiwa. Kesatuan ini dibuktikan dengan gaya hidup koinonia. Mereka menganggap apa yang mereka miliki sebagai koinos, milik bersama. Hasilnya, tak ada seorang pun di antara anggota Gereja Perdana yang berkekurangan. Mereka hidup dengan adil. Ya, keadilan merupakan tema besar dari dua jilid Lukas-Kisah Para Rasul. Bacalah baik-baik, di Injil Kristus datang untuk menjangkau mereka yang tidak dianggap manusia. Ia hadir untuk yang sekeng dan terpinggirkan. Di dalam Kisah, orang-orang yang mengikuti Yesus mengejawantahkan dengan sejelas-jelasnya. Mereka rela hidup berbagi, demi terciptanya keadilan di dalam komunitas mereka.


Ketika mereka menjual ladang dan tanah, mereka meletakkan hasilnya di depan para rasul. Mengapa? Kita harus mengenal berita teologis di balik keterangan ini. Gereja adalah Israel baru, yaitu umat Allah yang dipimpin oleh Mesias Yesus. Menjelang penyaliban-Nya, Yesus berkata kepada para murid-Nya dalam percakapan di Ruang Atas ketika mengadakan Perjamuan Makan Terakhir, “Dan aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu, sama seperti Bapa-Ku menentukannya bagi-Ku, bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan Aku di dalam Kerajaan-Ku dan kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel” (Luk. 22:29-30). Di balik kata-kata ini, Yesus sedang mempersiapkan mereka, yaitu pada saat Ia tak lagi hadir di antara mereka, merekalah yang selanjutnya akan memegang wewenang atas umat Allah yang baru, atas nama Kristus sendiri.


Dua teladan mengikuti penjelasan ini. Yang satu teladan positif dan yang lain negatif. Pertama, Barnabas. Ia menjual ladangnya dan membawa uang itu kepada para rasul. Ia mengambil peran bagi terwujudnya pola hidup adil di dalam Gereja Perdana dengan menyerahkan harta miliknya. Siapakah Barnabas yang muncul di bagian ini? Ia adalah seorang Lewi. Hal ini menjadi jalan pembuka bagi berita di 6:7 bahwa banyak imam—yang tentu berasal dari suku Lewi—menjadi percaya kepada Kristus. Barnabas berasal dari Siprus, dan di kemudian hari di Antiokhia ia menjadi seorang misionaris bersama Paulus, dan pertama-tama mereka mengadakan perjalanan misi ke Siprus (13:1-4).


Kedua, adalah Ananias dan Safira. Kisah ini begitu dramatis dan menggambarkan penghukuman Allah yang tak mengenal kompromi ke atas orang yang menyelewengkan dan menodai kemurnian pola kehidupan umat percaya. Apakah Ananias dan Safira sekadar ikut-ikutan karena melihat yang lain menjual tanah? Kita tidak dapat berspekulasi! Lalu, di mana kesalahan Ananias? Perhatikanlah, ia menjual tanah, dan hasilnya sebagian dipakai untuk kepentingan pribadi dan yang lain diserahkan kepada para rasul. Dengan percaya-diri mereka datang kepada Petrus seolah-olah bagian itu adalah totalitas hasil penjualan tanahnya. Catatan yang menarik dari kesaksian firman Tuhan, “dengan setahu istrinya.” Berarti mereka memang sudah bermufakat. Apalagi ketika istrinya ditanya mengenai harga penjualan tanah, Safira berkata, “Betul, sekian.”


Kisah Ananias dan Safira segera mengingatkan kita akan kejadian menjelang masuknya bangsa Israel ke Yerikho (Yos. 7). Upaya mereka terhambat oleh fakta ketidakmurnian di tengah-tengah mereka. Ada yang berkhianat terhadap kekudusan umat. Akhan pelakunya! Diam-diam ia menyembunyikan barang-barang rampasan dari Yerikho. Ia mencuri, ia menginginkan barang-barang itu untuk dirinya sendiri. Padahal seharusnya barang-barang itu dipersembahkan kepada Allah.


Akal bulus Akhan ini membuat Allah menjatuhkan murka kepada Israel dan menyatakan bahwa umat-Nya telah benar-benar berdosa dan harus kembali dimurnikan. Hanya ketika Akhan dibunuh dan barang-barangnya dibakar habis, barulah Israel dapat perjalannya menaklukkan Tanah Perjanjian dan mengenal kembali panggilannya sebagai bangsa yang harus kudus, sebab TUHAN Allah adalah kudus; umat yang harus sempurna, sebab TUHAN Allah adalah sempurna!


Demikian pula, Israel baru telah dinodai dengan penahanan sebagian hasil penjualan yang seharusnya diserahkan untuk menjadi kas bersama. Ananias dan Safira gagal untuk mengenali Gereja sebagai komunitas yang dipenuhi oleh Roh Kudus. Dengan begitu, mecoba untuk menipu gereja berarti mendustai Roh Kudus. Iblis yang merasuki Yudas, yang membuat Yesus diserahkan ke tangan orang-orang jahat (Luk. 22:3-4; Yoh. 13:2, 7), kini merasuki Ananias, seorang beriman kepada Yesus, dan berdusta kepada Roh Kudus (5:3).


Ketidakmurnian itu serta-merta dikonfrontir oleh Petrus, dan fatallah akibatnya! Suami itu tewas seketika. Disusul dalam tempo yang tak berselang lama juga oleh sang istri: Tewas dalam sekejap!


Hendaklah kita waspada terhadap segala bentuk pengkhianatan atas kemurnian Gereja Tuhan. Apa implikasi bagi kehidupan kita di masa kini? Pertama, lihatlah Barnabas: Ia memulai pelayanan di muka publik dengan mempersembahkan harta miliknya. Akhirnya, ia dipanggil untuk mempersembahkan diri secara total kepada Kristus dengan menjadi utusan Injil. Dan pertama-tama, yang ia injili adalah kampung halamannya sendiri di Siprus.


Di manakah kita memulai pelayanan kita? Di mana kita ada. Kita mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan. Kita menyediakan diri untuk dibentuk Allah sebagai pelayan-pelayan Injilnya. Kita mau mulai mengerjakannya bukan di tempat yang jauh, tetapi mula-mula di kandang sendiri. Maka, mulailah pelayanan itu dari tempat di mana Allah menempatkan Saudara dan saya.


Kedua, jauhilah mentalitas Ananias dan Safira di perikop ini; serta jauhilah mentalitas Akhan. Yesus pernah berkata, jika engkau memberi dengan tangan kanan, biarlah hal itu tidak diketahui oleh tangan kirimu. Tak ada udang di balik batu. Tak ada maksud tersembunyi. Adanya maksud-maksud tersembunyi itulah yang menghancurkan pelayanan dan kehidupan bergereja. Gereja tidak akan menjadi kesaksian yang baik di tengah masyarakat. Jika kita mau memberi, berilah dengan hati yang murni dan tulus bagi pekerjaan Allah. Berikanlah tanpa ada pesan-pesan sponsor. Ingatlah bahwa gereja bukan beranggotakan para pemegang saham, sehingga pemilik modal besar mampu memonopoli gerak perusahaan. Jika tidak menguntungkannya, ia akan tarik kembali dananya.


Ketiga, Gereja milik Kristus adalah gereja yang menjunjung kemurnian. Bukan hanya di dalam ajaran, tetapi juga pranata, etos dan spiritualitasnya. Adanya noda di dalam satu saja anggota tubuh Kristus, akan menitikkan noda dalam bentangan sejarahnya. Noda yang tak disadari akan menghambat laju pertumbuhannya. Gereja menjadi mundur. Gereja menjadi stagnan. Gereja menjadi suam-suam. Gereja yang sejati adalah Gereja yang mengakui Roh Allah bertakhta dengan berdaulat, dan oleh karena itu hendaklah masing-masing pribadi yang menjadi anggotanya tunduk dan patuh sungguh dan tidak bermain-main dengan Gereja Tuhan.


Kemurnian pribadi sama pentingnya dengan kemurnian korporat. Tujuan hidup bergereja adalah agar tercipta tatanan keadilan di antara anggota tubuh Kristus. Maka, hendaklah segenap pelayanan dan persembahan kita ditujukan bagi terciptanya tatanan itu. Adil itu bukan seperti membagi-bagi sembako kepada orang-orang miskin. Adil itu bukan semua tidak ada kaya dan tidak ada yang miskin. Bukan berarti tidak boleh memiliki harta milik dalam jumlah besar. Yang dicatat di dalam teks ini ialah, supaya “tidak ada yang berkekurangan.” Di dalam persekutuan, hendaklah tidak ada yang masih meminta-minta.


Apalah gunanya kita punya banyak harta bila kita menutup mata bagi orang lain? Apa artinya kita mempunyai perusahaan bila ternyata masih memeras karyawan dan buruh kita dan melupakan hak-hak yang seharusnya mereka terima? Apa artinya adil bila di keluarga kita, ayah masih dianggap sebagai penguasa lalim dan yang lain adalah makhluk sekunder? Apa faedah menumpuk banyak harta jika kita hanya dikenal sebagai orang Kristen yang pelit dan tak peduli dengan kondisi orang-orang di sekitar kita, dan terutama saudara-saudara kita seiman? Apa maknanya, bila kita mempersembahkan banyak tiap Minggu, tetapi tidak mempunyai damai sejahtera di hati, menyimpan hasrat dan kemauan tersembunyi, memiliki agenda-agenda di balik layar, dan masih banyak lagi? Semuanya itu merupakan pengkhianatan terhadap kemurnian kehidupan jemaat Tuhan. Karena itu, berhati-hatilah atas dosa yang mengintip kita: dosa Ananias dan Safira!


Terpujilah Allah!

Monday, May 04, 2009

Kelahiran Kembali (4)


Percaya atau Dihukum


Gagasan Allah “mengutus” Yesus adalah salah satu konsep yang kerap ditemukan di Injil Yohanes. Ia pun menjelaskan mengapa Allah berkenan mengutus Anak-Nya! Yaitu bukan untuk menghukum dunia tetapi untuk menyelamatkan dunia (3:17). Kata kerja Yunani krinein berarti menghakimi atau menghukum. Dari kata ini kita mendapatkan istilah “kritik” dan “krisis.” Kehadiran Yesus di dalam dunia membuktikan sebuah krisis besar bagi dunia ini dan bagi semua yang tinggal di dalamnya. Waktu-waktu ini menjadi “momentum kritis” penghakiman dan pengambilan keputusan.


Bukanlah Dia yang datang untuk menjadi Hakim atas dunia, untuk menghukumnya, sebab barangsiapa yang tidak percaya kepada-Nya telah terhilang di dalam kegelapan dan perbuatan jahat mereka (3:18-19). Dalam pada itu, bila ia berbalik datang kepada-Nya, ia akan diselamatkan dan mendapatkan hidup yang kekal.


Sering dibayangkan bahwa penghakiman itu terjadi pada kesudahan segala zaman dalam Hari Penghakiman. Tetapi Yohanes membuatnya jelas bahwa pengambilan keputusan saat ini sudah menentukan posisi seseorang dalam “momentum kritis” di sini dan kini! Eskatologi (ajaran mengenai akhir zaman) telah hadir sekarang, pada waktu Yesus datang untuk menyelamatkan kita.


Terang dan Kegelapan


Kedatangan terang dalam kegelapan menciptakan bayang-bayang, dan hal ini adalah krisis di mata Yohanes. Penghakiman itu telah terjadi! Namun orang lebih suka berada di dalam kegelapan! (3:19). Maka kita sekali lagi melihat kontras: antara orang yang memraktikkan apa yang benar, yang datang kepada terang dan mereka yang berbuat kejahatan, yang menyembunyikan tindakan-tindakannya (3:20-21).


Oleh sebab Yesus tidak datang untuk menghakimi tetapi menyelamatkan, maka yang dapat diselamatkan bukanlah mereka yang melakukan yang benar, yang saleh. Mereka yang tidak mengetahui bagaimana berbuat baik, yang terjerembab dalam kegelapan, boleh datang kepada terang itu, sebagaimana Nikodemus datang kepada Yesus pada malam hari dan menjumpai penerimaan dan kasih yang sejati dari Yesus.


Di halaman-halaman berikutnya di kitab Yohanes, kita pun berjumpa dengan orang-orang yang kontras dengan Nikodemus yang datang kepada terang, tetapi seperti Yudas! Yang meninggalkan terang dan masuk ke dalam kegelapan (13:30). Pilihan-pilihan ini selalu berada di hadapan kita: di masa-masa kritis ini, Allah telah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia, supaya kita tidak binasa tetapi memperoleh hidup yang kekal.


Refleksi:

1. Kegelapan dan kesalahpahaman seperti apa yang membuat kita harus dilahirkan kembali?

2. Bagaimana kita dapat diselamatkan?

3. Mana yang datang lebih dahulu, kelahiran kembali ataukah pengakuan percaya kepada Yesus?

4. Beranikah kita hidup di dalam kuasa Roh dalam kehidupan yang baru?


Doa


Tuhan Yesus,

berilah aku kuasa untuk hidup di dalam Roh Kudus supaya aku dapat memahami arti kelahiran

kembali dan kemudian diberdayakan untuk memasuki kehidupan yang baru.

Berilah anugerah untuk memandang melampaui apa yang ada di dunia ini

dan menerima keselamatan oleh karena Engkau telah ditinggikan.

Tuhan Yesus Kristus,

biarlah aku mengenal “momentum kritis”;

biarkan aku untuk keluar dari kegelapanku dan menerima kehidupan kekal dari Engkau.

Amin.